Arkanul Bai’ah Dalam Bingkai Jihad Siyasi (Rukun Al-Fahmu, Al-Ukhuwah dan At-Tsiqah)

Definisi Arkanul Bai’ah

Di awal Sekali Imam Syahid Hasan Al Banna mengungkapkan dengan perkataan berikut ini :

“Rukun Bai’at Kita ada sepuluh, maka jagalah!”

Dari kalimat pembuka diatas kita dapat melihat bahwa Arkanul Bai’ah terdiri kata-kata arkan, Bai’at dan infazhuha.

Kata Arkan adalah kata jamak dari rukn, yang berarti pilar utama atau salah satu pilar yang menjadi fondasi bangunan sesuatu, atau pilar yang apabila ditinggalkan maka batal suatu pekerjaan dan tidak memiliki kekuatan lagi. Atau pilar yang terkuat. Atau masalah yang besar. Atau sesuatu yang mempunyai kekuatan, baik berupa raja, tentara dan lainnya, atau berupa kedudukan dan kemampuan pertahanan[1].

Sementara itu kata bai’at berarti perjanjian untuk mencurahkan ketaatan dengan harga yang setimpal. Pada asalnya, kata bai’at bermakna mencurahkan ketaatan kepada penguasa dalam melakukan perintahnya.

Seseorang yang melakukan bai’at berarti dia telah berjanji untuk mencurahkan ketaatannya, sekalipun ketaatan tersebut menuntut harta atau kepayahan atau jiwa selama hal itu dalam mencari keridhaan Allah swt.[2]

Dalam Al-Qur’an banyak kita temukan kata bai’at; baik yang disebutkan dalam bentuk kata kerja mudhari, seperti firman Allah dalam surat al-fath:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al-Fath:10)

atau dalam bentuk masdar (kata jadian), dan ada juga kita temukan kata bai’at disamakan dengan isytara (membeli) yang berarti bahwa bai’at pada hakikatnya merupakan transaksi jual-beli antara seorang hamba dengan Allah SWT dihadapan seorang pemimpin. sebagaimana firman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”. (AT-Taubah:111)

Adapun kata Infazhuha berasal dari kata fazhahuha (jagalah dia/hafalkanlah dia) memiliki dua makna yaitu :

1. Sadar dan paham setelah mencermati, dalam arti merasa mantap pada hasil pemahaman

2. Melaksanakan konsekuensi Bai’at, yakni memelihara, menjaga dan melaksanakan. [3]

Risalah Arkanul Bai’ah Bagian dari Risalatut Ta’alim Wal Usar

Arkanul Bai’ah merupakan bagian dari risalah Imam Syahid Hasan Al Banna yang bertajuk Risalah Ta’alim Wal Usar. Sehingga akan kurang sempurna kalau kita melihat semua isi risalah untuk mendapatkan hikmah yang lengkap di dalamnya. Risalah ini dimunculkan oleh Imam Hasan Al Banna ditengah-tengah perpecahan yang terjadi dalam gerakan-gerakan Ishlah (reformasi) kembali untuk menyatukan semua kaum Muslimin. Setelah Kekhalifahan Turki Ustmani Runtuh pada tahun 1924 M muncullah banyak gerakan penyadaran untuk kembali memperbaiki keadaan Umat Islam.

Gerakan-gerakan ini mempunyai beberapa ciri :

1. Cendrung mengambil gerakan yang parsial, yaitu terlalu memprioritaskan pada satu aspek perbaikan saja. Ada yang hanya mementingkan aspek aqidah saja, ada yang hanya memfokuskan pada aspek ekonomi dan sosial saja, ada yang memfokuskan pada pembentukan tokoh saja karena mereka menganggap umat saat sekarang ini kehilangan tokoh. Bahkan ada yang hanya memfokuskan pada aspek politik saja.

2. Antara berbagai kelompok ini sering tidak akur dan saling menjatuhkan antara satu dengan lainnya. Sehingga perubahan itu tidak kunjung menemukan titik temu yang satu dan banyak yang tambal sulam.

Didasari oleh realitas inilah maka Imam Syahid Hasan Al-Banna memformulasikan kerangka berpikir untuk menyatukan semua gerakan penyadaran umat ini untuk kerja bahu-membahu.

Risalah ini ditulis Imam Syahid pada tahun 1943 M. risalah ini termasuk risalah yang terpenting yang ditulis oleh beliau. Bahkan Ustadz Abdul Halim Mahmud menganggapnya sebagai puncak dan intisari dari semua risalah yang beliau tulis.

Risalah ini berisi strategi jamaah Ikhwan dalam tarbiyah dan pembentukan kader. Juga berisi tentang tujuan-tujuan dakwah dan perangkat untuk mencapai tujuan tersebut. Imam Syahid menulis risalah ini untuk para ikhwan yang tulus, para mujahdi atau yang disebut dengan kader inti Ikhwan. Dimana gaya bahasa yang dipakai adalah gaya bahasa Instruksi untuk beramal, bukan sekadar pembicaraan.[4]

Teori reformasi yang diusulkan Imam Syahid Hasan Al Banna adalah teori yang jelas dan komprehensif.

“Sesungguhnya terapi bagi keterpurukan, perpecahan kata, kehancuran dan kemunduran peradaban umat Islam tidak bisa dilakukan dengan terapi tunggal, ia harus dengan terapi komprehensif. Begitu juga manhaj reformasi untuk membebaskan umat Islam dari keterpurukannya haruslah komprehensif tanpa memprioritaskan manhaj salah satu reformis, tetapi harus mencakup seluruh unsur reformasi. Dengan itulah semua kondisi umat Islam akan membaik,” begitulah yang ditulis Imam Syahid Hasan Al Banna menjelaskan gagasan Reformasinya. [5]

Unsur-unsur reformasi yang ini adalah :

1. Al Fahm: memahami agama Islam dengan benar dan komprehensif.

2. Al Ikhlas: Ikhlas karena Allah dalam beramal untuk Agama

3. Al ‘Amal: beramal demi agama ini dengan memperbaiki diri sendiri, rumah tangga Muslim, masyarakat, pemerintahan dan seterusnya.

4. Al Jihad: jihad fi sabilillah dengan berbagai tingkat dan variasinya.

5. At Tadhliyyah: berkorban pada waktu, kesungguhan, harta, dan jiwa demi agama

6. At Tha’ah: Menaati Allah dan Rasul-Nya dan waliyul amr, baik dalam kondisi susah atau mudah, senang maupun benci.

7. Ats Tsabat: memegang teguh agama, baik dari sisi aqidah, syari’ah, maupun perbuatan, sekalipun harus memakan waktu yang panjang untuk sampai pada tujuan.

8. At Tajarrud: membersihkan diri dari pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran Islam dan dari setiap orang atau teman yang memisahkan antara seorang Muslim dengan loyalitas kepada agamanya.

9. Al Ukhuwwah: persaudaraan dalam agama, karena persaudaraan merupakan saudara persatuan dan terapi bagi keterpurukan dan kehancuran, sedangkan perpecahan merupakan saudara kekufuran.

10. At Tsiqah: Kemantapan hati dalam mengontrol perbuatan demi Islam sesuai dengan kaidah Islam yang mengatakan,” tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Khalik.”[6]

Dalam risalatut ta’alim wal usar ini beliau juga menjelaskan tahapan-tahapan dakwah Ikhwan yaitu :

1. Ta’rif (pengenalan, atau tahap afiliasi)

2. Takwin (pembentukan atau tahap partisipasi)

3. Tahfidz (mobilisasi atau tahap kontribusi)

Bagian akhirnya berisi 38 kewajiban yang harus ditunaikan untuk menyempurnakan pelaksanaan Arkanul Bai’ah.

Definisi Jihad Siyasi

Jihad siyasi terdiri dari dua kata yaitu jihad dan siyasi.

Jihad; Secara bahasa Arab kata jihad dan mujahadah berarti,”menguras kemampuan dan melawan musuh” Jahada Al ‘Aduw berarti Qatalahu,”memeranginya.” Jihad adalah seruan kepada agama yang haq. Jihad dapat dilakukan dengan tangan dan lisan. Rasulullah bersabda,” berjihadlah kepada orang-orang kafir dengan tanganmu dan lisanmu.”

Fairuz Abadi mengatakan dalam kitabnya, Basha-ir Dzawit Tamyiz, “ jihad dan mujahadah adalah menguras kemampuan dalam memerangi musuh. At Tirmizi meriwayatkan dengan sanadnya dari Fudhalah bin ‘Ubaid, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,” Mujahid adalah orang yang berjihad melawan jiwanya (hawa nafsunya) dalam rangka menaati Allah”

Lafadz jihad dalam Al Qur’an dipakai dengan mengindikasikan beberapa makna antara lain :

1. Berjihad melawan orang-orang kafir dengan menggunakan argumen dan Hujjah (At-Taubah:73 dan At Tahrim: 9 dan Al Furqan:52)

2. Berjihad melawan pendukung kesesatan dengan pedang dan peperangan (An-Nisa’:95, Al-Baqarah: 218)

3. Berjihad melawan hawa nafsu (Al Ankabut:6)

4. Berjihad melawan setan dengan cara tidak mentaatinya karena mengharapkan hidayah Allah (Al Ankabut:69)

Tapi dalam banyak ayat yang ada dalam Al-qur’an lebih menekankan pengertian jihad adalah dengan padanan kata Qital (perang).[7]

Siyasi; Siyasi dalam bahasa arab berasal dari kata sa-sa yang mempunyai dua pola. Yaitu sasa-yasusu-sausan dan pola yang kedua adalah sasa-yasusu-siyasatan. Dalam bahasa Arab akar kata ini bermakna ganda yaitu kerusakan sesuatu dan tabiat atau sifat dasar. Dari makna yang pertama diperoleh makna leksikal menjadi rusak atau banyak kutu, sedangkan dari makna kedua diperoleh makna memegang kepemimpinan masyarakat, menuntun atau melatih hewan, mengatur atau memelihara urusan.

Dalam Hadist Rasulullah Saw kata “siyasah” digunakan stidak-tidaknya dua kali. Pertama; ketika beliau menyebut kepemimpinan atas Bani Israil oleh para nabi. Kedua; ketika beliau menuntun kudanya dari halaman Masjid Nabawi di Madinah. [8]

Dalam pengertian yang universal siyasah berasal dari kata as-saus yang berarti ar-riasah (Kepengurusan). Jika dikatakan saasa al-amra, berarti qaama bihi (menangani urusan).[9]

Menurut para ahli siyasah bisa berarti:

1. Seni memerintah Negara

2. Kekuatan (power) merealisasikan tujuan yang ingin dicapai

3. Seni tawar menawar (bargaining)

4. Imam Ibnu Qoyyim mengartikan: upaya perbaikan kehidupan manusia dan penghindaran kerusakan.

5. Ibnu Khaldun mengartikan: eksistensi organasasi kemasyarakatan untuk mewujudkan kehendak Allah yang memakmurkan bumi dengan menjadikan manusia sebagai khalifah.

6. Dalam bahasa Yunani; Politicos artinya sama dengan Al-Madinah, hal ini akan memberikan pemikiran baru kepada kita mengapa Yastrib dinamakan Madinatur Rasul yang merupakan pusat pemerintahan Rasulullah Saw.

7. Dalam beberapa hadits juga dapat berarti menangani sesuatu yang mengharuskan adanya pengkhidmatan, keahlian, kecakapan, seni dan kekuatan.[10]

Menurut pendapat Imam Syahid Hasan Al Banna seputar masalah siyasi adalah sebagai berikut :

“Sesungguhnya Muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali jika ia politisi; pandangannya jauh ke depan terhadap permasalahan umatnya, memperhatikan dan menginginkan kebaikannya. Meskipun demikian, dapat juga saya katakan bahwa pernyataan ini tidak dinyatakan oleh Islam. Setiap organisasi Islam hendaknya menyatakan dalam program-programnya bahwa ia memberikan perhatian kepada persoalan politik umatnya. Jika tidak demikian, maka ia sendiri yang butuh untuk memahami makna Islam”[11]

Syumuliatul Islam menuntut Amal Siyasi

Untuk menegaskan hakikat ini, bahwa Islam menghendaki (syariat) Islam dijadikan sebagai system hidup yang utuh dan integral, dengan membawahi aspek politik, beliau berkata:

“Produk pemahaman secara umum dan utuh tentang ini menurut Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah bahwa gagasan pemikiran mereka mencakup seluruh aspek perbaikan masyarakat. Termasuk dalam bagiannya adalah semua unsur lain yang merupakan gagasan perbaikan pula. Karena itu, semua reformis yang tulus dan penuh perhatian akan mendapati apa yang diingikannya di sana. Maka bertemulah cita-cita pencinta reformasi yang memahami dan mengetahui visinya. Engkau dapat mengatakan, dan itu tidak mengapa, bahwa Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah tatanan politik, karena para kadernya menuntut perbaikan hukum di dalam negeri dan menuntut kaji ulang terhadap hubungan umat Islam dengan bangsa lain di luar negeri, juga pendidikan masyarakatnya agar mencapai kehormatan, kemuliaan, perhatian kepada kebangsaannya, hingga batas yang paling jauh”.[12]

Berdasarkan keterangan diatas maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa jihad siyasi adalah mengerahkan semua kemampuan baik yang berbentuk penghidmatan, keahlian, kecakapan, seni dan kekuatan dalam memperbaiki kehidupan umat dan menghindari kerusakan yang akan terjadi secara sistematis dan komprehensif.

Peranan Arkanul Baiah Terutama Rukun Al Fahmu, Al Ukhuwah Dan At Tsiqoh Dalam Jihad Siyasi

Sebenarnya kesepuluh rukun ini sangat penting dalam jihad siyasi. Sehingga kita tidak dapat hanya memfokuskan pada beberapa rukun saja dan mengesampingkan yang lain. Karena ini akan merusak Syumuliatul dakwah itu sendiri. Ini penting kita tekankan sebelum kita memulai pembahasan ini. Karena semua rukun ini akan saling menguatkan, berkelindan satu sama lain mungkin bahasa tepatnya. Ibarat tali Kapal Lancang Kuning yang berpilin tiga. Jika putus satu maka akan tercerai-berailah tali tersebut.

Peranan Rukun Al Fahmu Dalam Bingkai Jihad Siyasi

Banyak pihak yang mempertanyakan mengapa Imam Syahid Hasan Al-Banna mendahulukan pemahaman dalam Arkanul Bai’ah ini. Ustadz Dr. Yusuf Al Qaradhawi menjelaskan bahwa urutan yang dibuat oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna sudah tepat. Karena beliau tahu betul skala prioritas, mendahulukan apa yang harus didahulukan.[13]

Skala prioritas dalam memperjuangkan Islam haruslah diperhatikan. Hal ini jelas, yang hampir tidak seorangpun diantara para pemikir dikalangan umat Islam yang memperselisihkannya. Dengan menentukan skala prioritas dalam melakukan kegiatan dakwah, tarbiyah, gerakan dan penataan ini yang keseluruhannya adalah merupakan unsur utama bagi setiap usaha pembatuan Islam. Atau penghidupan kembali manhaj Islam dalam diri manusia, akan terwujudlah kebangkitan dan kebangunan di seluruh wilayah Islam sebagaimana yang kita saksikan saat ini.[14]

Beliau lalu menjelaskan fungsi pemahaman selaras dengan aksioma, pemikiran harus mendahului gerakan, gambaran yang benar merupakan pendahuluan dari perbuatan yang lurus. Karena ilmu merupakan bukti keimanan dan jalan menuju kebenaran. Para ahli sufi juga membuat alur: “ilmu akan membentuk sikap, sikap akan mendorong perbuatan“. Sebagaimana pernyataan psikolog yang menyatakan ada alur antara pengetahuan, emosi dan perbuatan.[15]

Prinsip Al-Fahmu dengan 20 prinsipnya merupakan deklarasi bahwa Islam adalah solusi. Karena Islam adalah solusi maka kaidah-kaidah yang ada dalam Al-Fahmu ini akan menjadi kaidah dasar dalam beramal siyasi. Kita perhatikan saja prinsip yang pertama yang menerangkan tentang Syumuliatul Islam.

“ Islam adalah system yang syamil (menyeluruh) mencakup seluruh aspek kehidupan. Ia adalah Negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, serta pasukan dan pemikiran. Sebagaimana ia juga aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih”[16]

Prinsip pertama ini mengajarkan kepada kita bahwa aktivitas siyasi yang kita lakukan bukan hanya aktivitas menarik seseorang untuk memilih kita dalam perhelatan-perhelatan siyasi. Aktivitas siyasi kita lebih besar daripada itu. Tugas siyasi kita adalah menjadikan setiap muslim menyadari, mengetahui, meyakini dan mengamalkan Islam sesuai dengan kebesaran Islam itu sendiri. Sehingga semua permasalahan kehidupan baik yang yang pribadi dan yang lebih besar dari pada itu disandarkan pada tata aturan Islam.

Tidak ada lagi pernyataan-pernyataan yang membigungkan umat seperti yang dikemukan Nurkholish Majid: “Islam Yes, Partai Islam No”. atau pernyataan Amien Rais:” Saya lebih mementingkan Kecapnya daripada Botolnya”. Memang secara Substantif Islam itu harus didahulukan, tetapi pemberlakuan tata aturan Islam secara legal formal juga diperlukan. Masalah prioritas, itu adalah masalah strategi.

Sehingga kita tidak akan pernah berkata,” berikanlah hak negara kepada raja, dan berikanlah, hak agama kepada Tuhan.” Tidak akan pernah ada sekularisme dan liberalisme dalam pemikiran dan aktivitas siyasi kita. Pemahaman ini sangat penting dalam melaksankan aktivitas dakwah di ranah siyasi.

Pembahasan mengenai Rukun Al-Fahmu dan 20 Prinsip ini sudah banyak sekali bertebaran di buku-buku yang ditulis oleh para pewaris Dakwah Imam Syahid Hasan Al Banna. Pada makalah ini kita hanya akan mengambil contoh yang diatas saja.

Inti dari landasan Syar’i jihad siyasi berlandaskan Rukun Al Fahmu dapat kita ketahui diakhir rukun Al-Fahmu ini Imam Syahid Hasan Al Banna menutupnya dengan kata-kata: “Apabila saudaraku Muslim mengetahui agamanya dalam kerangka prinsip-prinsip tersebut, maka ia telah mengetahui makna dari Syi’arnya :Al Qur’an adalah undang-undang kami dan Rasul adalah Teladan kami”.[17] Artinya kerangka jihad siyasi kita harus selalu berada dalam pedoman Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Peranan Rukun Al Ukhuwah dalam Bingkai Jihad Siyasi

Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan Ukhuwah sebagai berikut: ”Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokohnya dan semulia-mulianya ikatan. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan sedangkan perpecahan adalah saudaranya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih. Standar minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan standar maksimal adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri).” Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al-Hasyr:9)

Al-Akh yang tulus melihat saudara-saudaranya lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena jika tidak bersama mereka, ia tidak bisa bersama yang lain. Sememtara mereka jika tidak bersama dengan dirinya bisa bersama yang lain. Sesungguhnya Srigala hanya akan memakan Domba yang terpisah sendirian. Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, yang satu mengokohkan yang lain.

Allah juga berfirman:

“Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi pelindung bagi lainnya” (At-Taubah:71)[18]

Lalu Ustadz Sa’id hawwa Memberikan komentar:

1. Ahmad Syauqi berkata,”kawan kala berpolitik, musuh kala berkuasa.” Persaudaraan di kalangan anggota berbagai institusi politik tidak akan terjalin kokoh. Hal ini disebabkan persaingan sesama mereka untuk mendapatkan posisi maupun keuntungan materi. Memang, unsur materi jika memasuki suatu wilayah pasti akan merusaknya. Mengomentari hubungan persaudaraan semacam ini, sebagian mereka mengatakan,”musuh dalam selimut adalah sahabat terbuka.” Hal yang serupa dengan ini tidak mungkin mendasari tegaknya Islam dan tidak mungkin mewujudkan cita-citanya. Oleh karenanya, persaudaraan (ukhuwah) yang hakiki menjadi salah satu rukun Bai’at.

2. Imam Hasan Al-Banna menunjukkan kepada kita beberapa indikator, yang dengannya kita mengetahui adanya persaudaraan, yakni rasa cinta. Standar minimal dari rasa cinta ini adalah bersikap lapang dada sesama akhul muslim. Sedangkan standar maksimal adalah itsar (mementingkan orang lain atas diri sendiri) kepada sesama manusia atas urusan dunia, seperti pangkat dan kedudukan. Cinta tidak dapat terwujud dalam suatu barisan kecuali seseorang bersikap zuhud terhadap harta yang ada di tangan orang lain.

Rasulullah bersabda:

“Zuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zhudlah engkau terhadap harta yang berada di tangan orang lain, niscaya orang lain akan mencintaimu”.

3. Tidak ada yang dapat melanggengkan ukhuwah kecuali taat kepada Allah dan menjauhi larangannya.

4. Tiada sesuatu yang mencegah runtuhnya Ukhuwah selain iman dan amal Shalih.

5. Musuh Allah Iblis sangat membenci terbangunnya Ukhuwah dan kasih sayang sesama da’i.[19]

Peranan Rukun At Tsiqoh Dalam Bingkai Jihad Siyasi

Iman Syahid Hasan Al Banna berkata mengenai Tsiqoh: ” yang saya maksud dengan Tsiqoh (kepercayaan) adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan yang mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan”.

Allah berfirman:

“Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamuhakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka keberatan terhadap sesuatu keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An-Nisa’:65)

Pemimpin adalah unsur penting dalam dakwah, tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan yang timbal balik antara pemimpin dan pasukan menjadi neraca yang menentukan sejauhmana kekuatan system jamaah, ketahanan khittahnya, keberhasilannya dalam mewujudkan tujuan dan ketegarannya dalam menghadapi berbagai tantangan. Maka lebih utama bagi mereka; ketaatan dan perkataan yang baik.

Kepemimpinan dalam dakwah Ikhwan menduduki posisi orangtua dalam ikatan hati; posisi guru dalam fungsi pengajaran; posisi syekh dalam aspek pendidikan ruhani; posisi pemimpin dalam aspek penentuan kebijakan politik secara umum bagi dakwah. Dakwah kami menghimpun pengertian ini secara keseluruhan dan tsiqah kepada pemimpin adalah segala-galanya bagi keberhasilan dakwah. Oleh karena itu akh yang tulus harus bertanya kepada diri sendiri tentang hal ini untuk mengetahui sejauh mana kepercayaan dirinya terhadap pemimpin dengan pertanyaan sebagai berikut :

1. Apakah sejak dahulu ia mengenal pemimpinnya dan apakah ia pernah mempelajari riwayat hidupnya ?

2. Apakah ia percaya pada kapasitas dan keikhlasannya ?

3. Apakah ia siap menganggap semua instruksi yang diputuskan oleh pemimpin, tentu saja tanpa kemaksiatan sebagai instruksi yang harus dilaksanakan tanpa reserve, tanpa ragu, tanpa ditambah dan tanpa dikurangi dengan keberanian memberi nasehat dan peringatan untuk tujuan yang benar.

4. Apakah ia siap menganggap dirinya salah dan pemimpinnya benar jika terjadi pertentangan antara apa yang diperintah oleh pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak ada teksnya dalam syariat ?

5. Apakah ia siap meletakkan semua aktivitas kehidupannya dalam kendali dakwah ? apakah dalam pandangannya pemimpin memiliki hak untuk mentarjih (menimbang dan memutuskan) antara kemaslahatan dirinya dan kemaslahatan dakwah secara umum ?

Dengan jawaban yang disampaikan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut atau yang semacamnya, akh dapat mengetahui sejauhmana kadar ikatan dan kepercayaan terhadap pemimpin. Adapun hati, ia berada dalam genggaman Allah; dia yang menggerakkan sekehendaknya.

Allah SWT berfirman:

“Walaupun engkau nafkahkan semua yang ada di bumi, niscaya engkau tidak akan dapat menyatukan hati mereka. Akan tetapi Allahlah yang mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia maha perkasa lagi maha bijaksana” (Al-Anfal:63)[20]

Bila seluruh ban, rangka dan badan mobil terendam lumpur, maka piranti tempat perapian tidak boleh tercemar. Hal yang paling sulit dalam hubungan antara Jundi dan Qiyadah ialah ketentraman hati terhadap kafaah (Keahlian), keikhlasan dan ketaatan antar mereka. Adalah dua titik ekstrim yang selalu dominan dalam kisah hubungan antara pengikut dan terikut, yaitu, satu sisi ada komunitas yang menganggap pemimpin adalah segala-galanya, sementara di sisi lain ada yang menganggap dirinya sentral, sehingga seperti apapun seorang pemimpin harus ditakar dengan puas tidaknya diri.[21]

Tsiqah erat kaitannya dengan kekuatan. Sehingga rasa Tsiqah Umar kepada Abu Bakar sebagaimana berikut : Apa yang membuat Umar begitu percaya kepada kekuatan Abu Bakar, padahal ia mendapatkan pengakuan Rasulullah : ” Allah meletakkan kebenaran di Lidah dan hati Umar?” jawabnya: Tsiqah. Ketika pandangan mayoritas sababat berpihak pada Umar untuk tidak memerangi orang menolak membayar zakat dan Abu Bakar bersikukuh memerangi mereka, akhirnya Umar mengambil pandangan Abu Bakar. “ Demi Allah, tak lain yang kulihat kecuali Ia telah melapangkan hati Abu Bakar untuk berperang, maka akupun tahu bahwa itu kebenaran.”

Suatu hari seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al Banna,” Bila keadaan memisahkan hubungan kita, siapa yang Anda rekomendasikan untuk kami angkat jadi pemimpin ?”. Jawabnya tegas,” Wahai Ikhwan, silahkan angkat orang yang paling lemah, kemudian dengar dan taatilah ia, niscaya ia akan menjadi orang paling kuat diantara kalian.”

Jadi tsiqah adalah sikap manusia normal yang menyadari keterbatasan masing-masing lalu saling menyetor saham sebagai modal bersama, untuk kemudian menikmati kemenangan bersama.[22]

Dalam dunia siyasi ada beberapa hal yang dapat mengguncang Tsiqah:

1. Internal: kemalasan menggali ilmu, berkonsultasi, meningkatkan kualitas ruhiyah dan fikriyah.

2. Eksternal: intervensi jorok media massa yang selalu mencitrakan kesetaraan kejujuran dan profesionalisme, namun pada saat yang bersamaan bersikap ragu-ragu, memfitnah dan berbuat curang terhadap dakwah.[23]

Beberapa Catatan Tentang Tsiqoh

Ustadz Said Hawwa memberikan beberapa catatan mengenai Tsiqah yaitu :

1. Diantara banyak kesalahan pemimpin yaitu menuntut tsiqah tanpa membayar maharnya.

2. Kesalahan pemimpin lainnya adalah mereka juga tidak bisa menanamkan tsiqah dalam dirinya kepada pimpinan diatasnya.

3. Jangan memberikan tugas kepada orang yang tidak mampu menunaikannya.

4. Berusahalah sebagai seorang pemimpin agar setiap keputusannya argumentative, kecuali saat-saat darurat.

5. Tsiqah yang sebenarnya menurut Imam Hasan Al Banna, semua instruksi mutlak di taati sepanjang subtansinya bukan untuk maksiat.

6. Pemecahan yang harus dilakukan kalau ada masalah dengan tsiqah: mengungkapkan persoalannya secara jelas dan bekerjasama mencari solusinya.

7. Seorang yang tidak tsiqah harus secepatnya dievaluasi.

8. Ukhuwah adalah dasar tsiqah. Maka tabayyun (chek and recheck) dalam nuansa ukhuwah perlu dilakukan dalam rangka memupuk tsiqah.

9. Tsiqah dijadikan rukun Baiat karena:

o Kita adalah Harakah diniyah ukhrawiyah (gerakan keagamaan yang berorientasi akhirat)

o Kita suatu gerakan dakwah yang mewujudkan cita-cita lokal dan internasional

o Program sebanyak apapun tidak akan berguna bila tidak ada yang melaksanakannya. [24]

Penutup

Demikianlah fungsi Akanul Bai’ah dalam bingkai Jihad siyasi. Semoga dapat membuka cakrawala kita dalam berjihad siyasi nantinya. Dengan pemahaman yang utuh, amal-amal yang kita lakukan akan menjadi ringan karena adanya kerjasama dan ukhuwah. Gerak rentak dakwah ini akan selaras dan harmonis apabila ada ketsiqahan antara pemimpin dan yang di pimpin. Semoga Allah membantu kita semua untuk selalu istiqamah.Amien.

Allah berfirman:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Hud: 112)

_________________________________________

Bahan Rujukan:

[1] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Syarah Ar Kanul Bai’ah 1 Alfahmu cetakan Pertama (Solo:Media Insani, 2006), hal. 33.

[2] Ibid.,hal. 34.

[3] Ibid., hal 37.

[4] Hasan Al Banna, Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna Jilid 1(Jakarta Timur: Penerbit Al I’thishom Cahaya Umat, 2005), hal. 285.

[5] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Syarah, Op.cit., hal. 25.

[6] Ibid., hal. 25-26

[7] Dr.Ali Abdul Halim Mahmud, Rukun Jihad Cetakan Pertama (Jakarta Timur: Penerbit Al I’tishom Cahaya Umat, 2001), hal . 31-33.

[8] Abu Ridha, ‘Amal Siyasi Gerakan Politik dalam Dakwah (Bandung: Syamil Cipta Media, 2004), hal. 13.

[9] Dr.Utsman Abdul Mu’iz Ruslan, Pendidikan Politik Ikhwanul Muslimin Cetakan Pertama (Solo: EraIntermedia, 2000), hal. 69.

[10] Silahkan lihat buku : Abu Ridha, ‘Amal Siyasi Gerakan Politik dalam Dakwah (Bandung: Syamil Cipta Media, 2004), hal. 16-23. Diterangkan panjang –lebar mengenai pembahasan masalah ini. Dilengkapi dengan teks hadistnya.

[11] Risalah Muktamar Al Khamis (Muktamar V). Prof.Dr.Taufiq Yusuf Al Wa’iy, Pemikiran Politik Kontemporer Al Ikhwan Al Muslimun Cetakan Pertama (Solo: Era Intermedia,2003) hal. 41.

[12] Ibid.

[13] Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Menyatukan pemikiran Para Pejuang Islam Cetakan Pertama (Jakarta: Gema Insani Press), hal. 23.

[14] Dr. Abdul Halim Mahmud, Merajut Benang-Benang Ukhuwah cetakan Pertama (Solo: Era Intermedia, 2000), hal. 12-13

[15] Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Menyatukan pemikiran Op.cit.

[16] Hasan Al Banna, Surat Terbuka Untuk Kader Dakwah cetakan keenam (Jakarta: Al I’thishom Cahaya Umat), hal. 6-7

[17] Ibid., hal.15

[18] Sa’id Hawwa, Membina Angkatan Mujahid Cetakan Kelima(Solo: Era Intermedia, 2005), hal. 176

[19] Ibid., hal. 176-177

[20] Ibid., hal. 177-179

[21] Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah Cetakan Lima (Jakarta: Tim Pustaka Da’watuna, 2006), hal. 102

[22] Ibid., hal 104

[23] Ibid., hal. 105-106

[24] [24] Sa’id Hawwa, Membina..Op.Cit hal. 179-181

AddThis
Diposkan oleh Catatan Rahanto di 09:51 0 komentar
Label: Materi Tarbiyah
Rabu, 10 November 2010
Tamayyuz di Mihwar Muassasi

KH Hilmi Aminuddin – ( Ketua Majelis Syura PKS )

Mahawir ad-da’wah

Ikhwah dan akhwat fillah, saat ini gerakan dakwah kita memiliki rakizah siyasiah, yakni stressing atau titik tekan pada bidang politik. Hal ini perlu saya garis bawahi, mengingat ada beberapa hal yang kadang-kadang menyebabkan kita mengalami keterjebakan situasional. Misalnya ada yang mengatakan atau menganggap kita masuk ke dalam mihwar siyasi (era politik).

Padahal dalam manhaj kita, hanya dikenal mahawir arba’ah atau empat era yang di dalamnya tidak ada mihwar siyasi (era politik) sebagaimana halnya tidak ada mihwar tarbawi (era pembinaan). Keempat mihwar dakwah tersebut ialah mihwar tanzhimi (structural), mihwar sya’bi (masyarakat), mihwar muassasi (kelembagaan) dan mihwar daulah (negara). Di setiap mihwar dari empat mihwar dakwah tersebut terkandung amal siyasi (aktivitas politik) dengan tingkat persentase yang berbeda-beda, karena amal siyasi adalah bagian tidak terpisahkan dari amal da’wi (aktivitas dakwah) kita.

Ikhwah dan akhwat fillah, seringkali dalam menghadapi situasi, kondisi-kondisi, aksi-aksi dan tantangan-tantangan tertentu kita lupa untuk merujuk atau kembali ke manhaj (pedoman). Padahal penguasaan kita akan manhaj, insya Allah cukup baik, apakah itu di ruang lingkup manhaj asasi, yakni Alquran dan Sunah ataupun di ruang lingkup produk ijtihad jama’ah kita yang tentunya juga bersumber dari Alquran dan Sunah. Langkah-langkah perjuangan dalam bentuk manhaj amali (pedoman aktivitas) tersebut cukup untuk dapat merespon dan mengantisipasi segala perkembangan. Hanya saja kita seringkali lupa merujuk ke manhaj tersebut. Boleh jadi karena keterdesakan kita di lapangan atau kesibukan yang demikian padat.

Agar lebih jelas, saya ingin sedikit mengulang penjelasan-penjelasan tentang stressing di masing-masing mihwar. Pada mihwar tanzhimi, rakizatul amal (stressing kerja) kita berupa bina syakhshiyah islamiah dan syakhshiyah da’iyah atau mewujudkan sosok pribadi islami dan pribadi da’iah. Juga bagaimana kita berusaha mengokohkan mishdaqiyah syakhsyiah islamiyah dan mishdaqiyah syakhshiyah da’iyah atau kredibilitas pribadi islami dan kredibilitas pribadi da’iyah.

Di era atau mihwar tanzhimi tersebut yang selalu kita ukur dan evaluasi adalah tingkat pertumbuhan kader dalam arti pertumbuhan dan perkembangan kader-kader kita secara internal. Bahkan ketika kita mengukur, mengevaluasi diri dari segi eksternal, yang kita lihat pun sejauh mana pertumbuhan calon kader yang dapat direkrut menjadi kader. Jadi di masa itu orientasinya adalah perekrutan, pembinaan, pertumbuhan dan perkembangan kader-kader dakwah.

Kemudian dakwah kita berkembang dan memasuki mihwar atau era sya’bi. Di era ini kita mulai ber-sya’biah atau mensosialisasikan diri, kader-kader dan program-program dakwah kita di masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai di mihwar ini adalah mishdaqiyah syakhshiyah ijtima’iyah atau kredibilitas sebagai pribadi yang diterima di masyarakat. Kita berupaya keras agar kader-kader kita memiliki kredibilitas tersebut. Di mihwar sya’bi ini kita bukan hanya menerapkan tolak ukur kuantitas berupa pertumbuhan dan perkembangan kader, melainkan juga sejauh mana kader-kader yang kita miliki memberi pengaruh di masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, di mihwar tanzhimi kita sudah mulai melaksanakan program-program yang merupakan mukadimah atau pengkondisian ke arah mihwar sya’bi. Begitu pula di mihwar sya’bi, kita sudah melakukan langkah-langkah pendahuluan yang sekaligus merupakan kondisioning untuk menuju mihwar muassasi.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberikan peluang yang mempercepat masuknya kita ke mihwar muassasi. Kita memang sudah membuat langkah-langkah mukadimah menuju mihwar muassasi berupa pendirian yayasan, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan lain sebagainya. Namun perubahan-perubahan cepat yang terjadi yang antara lain dipicu dan dipacu oleh globalisasi ekonomi, politik dan lain-lain serta krisis ekonomi—dan tentu saja sebab utamanya adalah tadbirullah (rekayasa Allah), membuat peluang untuk memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan formal terbuka lebar. Maka mulailah kita memasuki mihwar muassasi dengan menampilkan diri sebagai Hizbul ‘Adalah (Partai Keadilan). Kita menyebutnya mihwar muassasi dan bukan mihwar siyasi, walaupun memang dalam mihwar muassasi sebagaimana halnya di mihwar tanzhimi dan sya’bi terkandung aspek-aspek siyasi. Dan karena di mihwar muassasi ini sudah menyentuh aspek kelembagaan politik, maka persentase amal siyasinya pun meningkat.

Upaya memantapkan langkah-langkah secara struktural dan operasional di mihwar muassasi ini juga akan menyentuh sektor amal siyasi. Sekali lagi saya tegaskan bahwa amal siyasi merupakan sektor. Sebab bila kita mengatakan mihwar kini sebagai mihwar siyasi berarti kita terjebak ke dalam amal juz’i dan sekaligus harakah juz’iah, seperti halnya kita tidak bisa mengatakan sebagai mihwar tarbawi agar tidak terjebak juga pada ke-juz’iyah-an atau keparsialan. Jadi setiap mihwar memiliki beragam amal sesuai dengan ke-syumuliah-an dan ke-takamuliah-an amal Islam.

Ikhwah dan akhwat fillah, karena itu di setiap mihwar dibutuhkan adanya ke-tawazun-an antar amal. Ke-tawazun-an adalah proporsionalitas dalam pemberian peran-peran, pendayagunaan dan pengerahan potensi-potensi SDM. Kata proporsionalitas menunjukkan adanya ketepatan atau akurasi penyaluran potensi sesuai dengan tuntutan medan dan situasi-kondisi serta aksi-aksi yang kita lakukan.

Oleh karena itu, ikhwah dan akhwat fillah, betapa pun kita dituntut untuk merespon situasi dan kondisi saat ini dengan proporsionalitas yang menuntut porsi lebih di bidang politik, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan amal tarbawi (pembinaan), amal tsaqafi (penambahan wawasan), amal khairi (sosial), amal ijtima’i (kemasyarakatan) dan lain-lain. Masalah stressing atau penekanan di sektor tertentu pada moment tertentu adalah hal yang biasa. Misalnya di bulan Ramadhan kita meliburkan halaqah-halaqah tarbawi internal, karena kita ingin merespon amal khairi dan taabbudi (ibadah) di bulan mulia tersebut. Kita berkonsentrasi meningkatkan tadayyun sya’bi (keberagamaan masyarakat) karena terdapat katsafah furshah (peluang yang luas) di bulan Ramadhan.

Jadi bila kini menjelang pemilu kita merespon tuntutan amal siyasi yang membesar, itu merupakan masalah proporsionalitas tanpa harus mengabaikan bidang-bidang lain. Sehingga memadatnya aktivitas politik kita menjelang pemilu tidak berarti kita terjebak dalam mihwar politik. Mihwar kita adalah mihwar muassasi, artinya secara kelembagaan kita mulai menampilkan diri seluruh batang tubuh ke permukaan dengan nama Hizbul ‘Adalah.

Ikhwah dan akhwat fillah, mihwar muassasi ini akan terus berkembang ditandai dengan bertambahnya muassasah atau lembaga infrastruktur sosial politik kemasyarakatan baik yang kita bangun sendiri atau yang kita warnai (muassasah yang dibangun oleh ikhwah seperjuangan dalam Islam, yaitu ormas atau parpol lain), dan nantinya juga kita bisa melebarkan sayap dengan memasuki secara langsung lembaga-lembaga suprastruktur dan infrastruktur kenegaraan. Hal ini merupakan bagian dari mihwar muassasi dan merupakan langkah-langkah awal yang akan menjembatani masuknya kita, Insya Allah, mustaqbalan (di masa mendatang) ke dalam mihwar daulah.

Hal penting yang harus kita perhatikan di dalam mihwar muassasi ialah bahwa kita bukan sekadar memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan partai, melainkan juga mengupayakan bagaimana aqidah, fikrah dan manhaj kita mewarnai infrastruktur sosial politik di masyarakat atau infrastruktur kenegaraan dan kemudian akhirnya supra struktur kenegaraan. Lembaga infrastruktur dan suprastruktur negara akan kita masuki jika tingkat proporsi penyebaran SDM dan pengaruh kita di ruang lingkup kelembagaan infrastruktur kemasyarakatan atau sosial politik sudah memadai. Barulah kemudian kita melangkah ke dalam mihwar daulah.

Dalam hal ini ingin saya ingatkan bahwa setiap mihwar memiliki perimbangan proporsi amal yang berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Hendaknya hal ini tetap dalam ruang lingkup ke-tawazun-an dan keterpaduan amal islami.

Tamayyuz

Langkah-langkah amal kita harus mutamayyiz. Kita bergaul bersama, berpacu, namun nahnu mutamayyyizun (kita berbeda). Kata tamayyuz mengandung pengertian keberbedaan yang mengandung keistimewaan. Jadi bukan asal beda, melainkan mutamayyiz ’an ghairina, berbeda yang mengandung keistimewaan dari yang lainnya. Kita mengetahui slogan yang dikumandangkan oleh Syahid Sayyid Quthb, yaitu yakhtalithun walakin yatamayyazun, kita berbaur, bergaul, bersilaturahmi, ber-tawashau bil haq, ber-tawashau bis shabri, tawashau bil marhamah dengan seluruh lapisan umat, namun nahnu mutamayyizun, kita berbeda. Tamayyuz—kespesifikan ini penting agar menjadi arahan yang memudahkan masyarakat untuk mendukung kita.

Pertama-tama tamayyuz kita adalah dalam ruang lingkup SDM. Kita harus mutamayyiz fii rijal. Kita harus sanggup menampilkan tamayyuz fii rijal, keistimewaan SDM atau personil.

Ikhwah dan akhwat fillah, dalam memasuki mihwar muassasi yang kedudukannya merupakan langkah-langkah mukadimah menuju mihwar daulah, rijalud da’wah atau SDM dakwah kita seyogianya sekaligus juga memiliki bobot dan bakat yang akan dikembangkan menjadi rijalud daulah atau sosok negarawan yang memiliki visi kenegaraan yang baik.

Kita sudah memiliki kader-kader yang berbasis akidah, fikrah dan minhaj yang baik. Kini tinggal berupaya bagaimana kita mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan diri secara atraktif. Bukan berarti kita riya, melainkan semata-mata dalam kerangka “isyhadu bi anna muslimin”, saksikan kami ini orang-orang Islam. Kita mencoba memperjelas, mengedepankan tampilan produk islamisasi rijal kita.

Paling tidak ada lima kespesifikan, keunikan atau keistimewaan yang—Alhamdulillah—dimiliki oleh jamaah kita, yaitu:

Mutamayyiz fii rijal (keistimewaan SDM)
Mutamayyiz fi adaa (keistimewaan penunaian tugas)
Mutamayyiz fii intaj (keistimewaan sentuhan produk)
Mutamayyiz fii khidmah (keistimewaan pelayanan)
Mutamayyiz fii muamalah (keistimewaan bermasyarakat)

Keistimewaan yang pertama ialah mutamayyyiz fii rijal atau keistimewaan personil dakwah. Keistimewaan personil dakwah atau SDM ini dilandasi oleh tamayyuz fii aqidah, fikrah, minhaj dan akhlaq. Modal utama berupa keistimewaan dalam akidah, fikrah, minhaj dan akhlak sangat berdayaguna dalam membangun mishdaqiyah syakhshiayah da’iyah (kredibilitas pribadi muslim dan da’iyah).

Namun keistimewaan SDM ini harus ditunjang oleh tamayyuz fii adaa atau keistimewaan dalam penunaian tugas. Jadi kita harus mutamayyiz fii adaa. Dalam menunaikan tugas, kita memiliki modal berupa motivasi yang tinggi yang dibangun oleh aqidah kita. Kemudian idealisme yang besar yang dibangun oleh fikrah kita dan langkah-langkah kerja yang tertib teratur yang dibangun oleh manhajiah kita.

Kesemuanya itu menjadi modal dalam menunaikan ruhul badzli wa tadhhiyah karena dilandasi niat yang khalishan li wajhillah ta’ala. Ruhul badzli wa tadhhiyah adalah modal motivasi, militansi dan vitalitas stamina yang dibangun oleh akidah, fikrah, akhlak dan semangat ibadah kita. Kesemuanya itu menjadi modal utama dalam tamayyuz fii adaa yang kemudian ditopang pula oleh kemampuan dalam takhtit, perencanaan/programming dan idariah/manajemen.

Kelengkapan modal tersebut membuat kita mutamayyiz fi adaa, istimewa dalam penunaian tugas. Kita tidak menjadi orang-orang yang menunaikan tugas secara infiradiyah, sekenanya, seketemunya dan seadanya di lapangan, melainkan benar-benar mutamayyiz fii adaa karena di back up oleh faktor-faktor mental, moral dan ideal serta faktor-faktor konsepsional, berupa perencanaan dan manajemen yang baik. Jika kita berhasil menampilkan adaa’ul wazhaif (penunaian tugas secara baik), insya Allah keistimewaan kita akan muncul di tengah masyarakat.

Apalagi bila diikuti dengan keistimewaan produk-produk yang kita hasilkan yang menimbulkan kesan dan pengaruh yang kuat di masyarakat karena mau tidak mau masyarakat memang menilai dan mengukur masalah produktivitas.

Karena itu, keistimewaan yang ketiga yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii intaj. Program-program yang kita gulirkan harus terasa hasilnya di masyarakat. Sudah tentu yang dimaksudkan terasa, tidak selalu harus dalam bentuk produk materi. Bahkan sebagian besar yang kita miliki bukan berupa produk materi, melainkan pendekatan ilmi, shihhi, ijtima’i, ma’nawi dan sebagainya

Ikhwah dan akhwat fillah, sudah sewajarnyalah masyarakat mengharap dan menunggu-nunggu produk-produk nyata yang dihasilkan oleh parpol-parpol dan kelompok-kelompok organisasi yang menjamur belakangan ini. Oleh karena itu kita harus mampu menyajikan produk yang mutamayyiz kepada masyarakat jika ingin mendapatkan sambutan publik yang baik.

Tamayyuz dalam produk bukan diukur dari segi kuantitasnya, melainkan dari segi kualitas sentuhannya yang terasa di hati masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz yang berikutnya yang juga harus kita miliki ialah tamayyuz fii khidmatan lis muslimin (keistimewaan dalam pelayanan kepada muslimin), khidmatan lin naas (pelayanan kepada manusia), sehingga kita akan tampil mutamayyiz fii khidmah (istimewa dalam pelayanan). Ada pepatah Arab berbunyi, “An-naas yuwalluna man yakhdimuhum,” (manusia akan memberikan wala atau loyalitas kepada orang-orang yang melayaninya). Karenanya ada juga pepatah lain, “Sayyidul qaum khaadimuhum” (Pemimpin suatu kaum [bangsa] adalah pelayan bagi kaum tersebut).

Bila kita tampil sebagai lembaga yang paling piawai memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka ia pun akan mendapatkan sambutan lebih dibanding dengan yang lain. Pelayanan kepada masyarakat tidak harus selalu diartikan pelayanan fisik, materi yang bersifat langsung, simbolik, atraktif dan promotif, misalnya pemimpin datang memberikan bantuan materi kepada bawahannya. Hal itu hanya merupakan sebagian kecil dari ruang lingkup pelayanan kepada masyarakat. Memang hal itupun perlu juga sekali-kali kita lakukan, namun yang lebih penting adalah bagaimana kerja keras kita, mengupayakan terjaminnya kemaslahatan masyarakat dalam dua hal yang digariskan Allah dalam Q.S. Quraisy: (1) Terjaminnya masyarakat dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang asasi أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ (terbebasnya dari kelaparan) dan (2) Kebutuhan akan rasa aman atau terbebas dari ketakutan, ketidakpastian, intimidasi, kediktatoran dan kezhaliman (وَءَامَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ).

Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ atau masalah qalb (hati) dan وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ atau berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasadiyah. Ruang lingkup pelayanan kita harus meliputi kedua aspek tersebut.

Dalam masalah pelayanan ini, hal yang perlu saya garis bawahi bahwa itu meliputi garis vertikal ke atas, yakni upaya kita mempengaruhi decision making dalam hal politik, hukum dan perundang-undangan dengan cara aktif memberikan usulan, kritik dan koreksi. Kemudian juga meliputi garis vertikal ke bawah, yakni upaya kita menggulirkan produk-produk dalam ruang lingkup ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, tsaqafiyah, shihhiyah dan fanniyah di tengah masyarakat.

Produk-produk dalam ruang lingkup vertikal ke bawah akan menjadi basis dari upaya meluncurkan produk siyasah wal qanun ke atas. Dan produk siyasah wal qanun ke atas akan memayungi dan melindungi segala aktivitas pelayanan kita ke bawah. Artinya segala aktivitas kita yang menyebar di masyarakat perlu mendapat perlindungan politik dan hukum. Sebaliknya segala aktivitas yang berkaitan dengan masalah politik dan hukum perlu mendapatkan basis berupa produk dan kerja nyata kita di bidang ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, fanniyah, iqtishadiyah dan sebagainya.

Akhirnya, ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz kelima yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii muamalah. Cara agar kita tampil beda dan istimewa dalam bermuamalah (bergaul) adalah bila kita bermuamalah bil ihsan. Allah berfirman,

“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Allah menyuruh kita berbuat ihsan dalam segala urusan. Yang dimaksud dengan ihsan adalah kebaikan-kebaikan, apakah berupa kebaikan materi, sulukiyah, maupun sikap dan perilaku. Dalam menyalurkan kebaikan-kebaikan tersebut hendaknya kita membingkainya dengan akhlaqul karimah. Sebab betapa pun besar kebaikan yang diberikan, jika cara memberikannya tidak disertai dengan adab dan kesantunan, maka ia akan lebih dirasakan sebagai penghinaan dan bukan kebaikan.

Inti muamalah adalah bagaimana kita menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat dengan dibingkai akhlaqul karimah. Maka masyarakat pun akan melihat bahwa kita mutamayyiz fii muamalah, istimewa dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab upaya menanamkan pengaruh di masyarakat, pada hakikatnya adalah bagaimana kita merebut hati orang. Selain berupaya membuka hati mereka melalui program-program yang kita selenggarakan dengan baik, juga harus dengan kekuatan ta’abudi dan taqarrub kita kepada Allah, karena miftahul qulub, kunci hati ada di tangan Allah. Dengan kekuatan ikhtiar dan doa kita berharap kepada semoga Allah membukakan hati-hati mereka.

Wallahu a’lam

Diposkan oleh Catatan Rahanto di 06:52 0 komentar
Label: Taujihat, Ust. Hilmi Aminudin
Kamis, 07 Oktober 2010
Al-Imtidad Ad-Da’wah (Penyebaran Pertumbuhan Da’wah)

KH Hilmi Aminuddin-Ketua Majelis Syura PKS

Agar al-imtidadud da’awi (penyebaran pertumbuhan da’wah) semakin berpengaruh dalam perubahan, pembinaan, dan siyaghatu al-binaai al-ijtima’i (penataan struktur kemasyarakatan), tidak cukup hanya kita respon dengan al-imtidadu tanzhimi(penyebaran pertumbuhan struktur dakwah). Begitu pula agar struktur kemasyarakatan ini semakin dekat dengan siyaghatu al-binaai al-Islamiy (tatanan struktur masyarakat islami), tidak cukup hanya kita respon dengan al-imtidadud tanzhimi, memperluas dan memperlebar struktur kita.

Respon-respon struktural itu harus ditindaklanjuti dengan al-imtidad at-tarbawi (pengembangan pembinaan). Hajman wa waznan, baik kapasitas ataupun bobotnya. Pengembangan tarbiyah yang sudah merupakan pekerjaan kita sehari-hari dan merupakan basis operasional, harus kita kembangkan kapasitas daya tampungnya. Sudah banyak yang menunggu untuk ditarbiyah. Sekarang tidak terbatas pada level mahasiswa, pemuda, atau akademisi. Para professional, pengusaha, praktisi bisnis, banyak yang menunggu untuk ditangani secara tarbawi. Sehingga kapasitas tarbiyah kita harus meningkat. Efeknya, tuntutan kepada pengembangan manhaj tarbiyah pun harus meningkat.

Pendekatan tarbiyah untuk pemuda dan mahasiswa berbeda dengan pendekatan tarbiyah kepada alim ulama dan mubaligh. Berbeda pula dengan para professional, praktisi bisnis, dan lain-lain. Oleh karena itu, fann at-tarbawi, penguasaan teknis operasional tarbiyah harus semakin meningkat. Agar kapasitas tarbiyah daya tampungnya semakin luas.

Untuk menjaga kapasitas, daya dan bobot tarbiyah, jangan sampai tarbiyah kita berkembang nuansanya menjadi ta’lim, apalagi tabligh. Karena ta’lim itu tazwidul ‘ilm (pembekalan ilmu), dan tabligh itu tazwidul ma’lumat (pembekalan informasi). Sedangkan tarbiyah merupakan tashihul aqidah, tashihul fikrah, tashihul akhlaq, dan tashihul ‘ibadah. Sehingga bobot taujihnya harus sangat menyentuh mafatihul uqul, mafatihul qulub, wa mafatihun nufus. Harus membuka kunci-kunci jiwa, hati, dan akal manusia. Tarbiyah harus lebih menggugah, lebih berkesan, dan lebih membangkitkan. Sebab tarbiyah bukan talqinul ulum.

Lapisan pendukung dan simpatisan dakwah menunggu penanganan kita. Kalau mereka merasakannya sama dengan majelis ta’lim umum, bahkan naudzubillah dirasakan sama dengan dakwahtainment, maka itu tidak akan menghasilkan potensi dakwah. Ini harus ditata. Karena tarbiyah itu merupakan kerja pertama dan utama jama’ah dakwah kita untuk membangun potensi SDMnya.

Walaupun begitu, tarbiyah, sebagai upaya manusia, bisa saja—naudzubillah—terjadi infilath tarbawi/falatan tarbawi. Artinya hasil tarbiyah yang tidak terkontrol. Hasil kerja keras dan pengorbanan kita, bisa saja natijahnya jelek. Tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Infilat tarbawi biasanya berbentuk:Munculnya tasyaddud, sikap eksklusif, ekstrim, dan merasa benar sendiri. Ini harus dipantau. Padahal kita memiliki pandangan ijabiyah ru’yah (memandang sisi positif). Pada hakekatnya kebaikan itu ada di mana-mana. Cuma ada yang terkonsolidasi oleh kita dan ada yang belum. Bersikap kamaliyat (perfeksionis). Seolah-olah tarbiyah itu targetnya menciptakan insan malaki, manusia berkualitas malaikat. Ini juga bentuk infilat tarbawi, bentuk penyimpangan. Bentuk infilath tarbawi yang lain adalah juz’iyyah. Hanya menukik di sektor tertentu saja. Misalnya ruhiyah saja, sementara fikriyah kurang berkembang. Sehingga pertumbuhan cara berfikirnya ketinggalan. Tidak mampu menghadapi komunikasi fikriyah seperti yang kita jumpai di lapangan setelah musyarokah ini. Atau hanya menukik di bidang fikriyah atau siyasah saja. Padahal yang kita harapkan adalah tarbiyah yang integral dan terpadu.

Selain imtidad tarbawi, pertumbuhan dakwah kita juga menuntut imtidad tsaqofy. Kita harus belajar dan belajar, terus menerus. Kita harus mau membaca dan membaca. Baik bacaan yang tertulis di buku-buku, majalah-majalah, surat kabar, radio atau TV. Juga membaca kehidupan masyarakat. Ini semua penting. Sehingga tsaqofah kita berkembang, tidak ketinggalan di segala sektor.

Kita bergaul dengan mereka yang beraneka ragam keyakinan, beraneka ragam latar belakang ideology, pendidikan, budaya, dan bahkan kepentingannya. Supaya kita tidak gagap, kekurangan modal ketika menghadapi mereka, maka tsaqofah kita harus ditingkatkan. Bagi yang masih mempunyai kesempatan belajar formal, silahkan tingkatkan. Apakah S1, S2, S3, kalau ada S4 kita masuki. Bagi yang pendidikan formalnya sudah tertib, maka informalnya harus iqro’, terus membaca. Memang kalau kita tidak pandai memenej waktu, tazwidul tsaqafah (pembekalan wawasan) ini akan merosot.

Imtidad tsaqofiy—hazman waznan—harus ditingkatkan. Apalagi ajaran Islam mengajarkan bahwa thalabul ‘ilmi itu minal mahdi ilal lahdi. Menuntut ilmu itu dari buaian hingga liang kubur. Uthlubul ‘ilma walau bi shin. Walaupun di Cina. Padahal waktu itu dakwah Islam belum sampai ke Cina. Tapi kata Rasul carilah ilmu itu sampai ke negeri Cina.

Jama’ah kita ini, di mana pun, terkenal sebagai madrasah, di mana di dalamnya selalu belajar dan meningkatkan diri, sudah menjadi shibghoh yaumiyah, warna keseharian kita.

Imtidad fanni, penguasaan teknik operasional sesuai bidang dan tugas kerja kita, baik kerja tanzhimiyah atau kerja professional. Penguasaan teknis secara lebih mengerucut sesuai dengan latar belakang tugas kita semakin penting.

Berikutnya adalah imtidad idari. Organisasi kita semakin besar, memerlukan manajerial yang tangguh. Sesuai dengan karakter organisasi jama’ah kita, adalah bukan karakter birokrasi, tapi karakter mutathowwi’in (sukarela). Oleh karena itu kita harus membagi pendelegasian wewenang, tugas-tugas secara lebih merata dan lebih meluas. Mungkin kalau dilihat dari sudut pandang birokrasi—perusahaan atau pemerintahan—organisasi kita amat bengkak. Karena kita ini tidak ada keterkaitan antara penugasan dengan standar gaji. Kalau pun ada, itu sifatnya hanya ta’awun. Itu pun jauh dari standar untuk ma’isyah. Karena kaitannya bukan ma’isyah, tapi lebih kepada muwasholah (penyambung) saja.

Karakter organisasi yang mutathowwi’in, sukarelawan ini, tugasnya harus terbagi. Kewenangan didelegasikan di dalam bidang-bidang. Kalau ada pos-pos yang kurang berjalan, kita tingkatkan agar lebih mampu berjalan dan memikul tugas secara lebih baik. Bukan dengan cara ditekel/diambil. Kita berusaha untuk meningkatkan para penjaga pos agar bertugas secara bertahap. Agar terbagi secara baik, terlaksana melalui proses ta’awanu ‘alal birri wat taqwa. Ini karena tanzhim kita adalah tanzhim mutatowwi’in, bukan birokrasi.

Karakter organisasi lain, yang terkenal sibuk dan bekerja adalah ketua dan sekretaris. Di organisasi kemasyarakatan itu hal biasa. Mudah-mudahan, insya Allah, itu tidak akan merembes kepada kita. Kita sudah terbagi, semua bekerja, yang penting adalah tanasuq dzaatii. Singkronisasi antar komponen organisasi dalam bidang tertentu, dan singkronisasi antara bidang dengan bidang yang lain. Setiap potensi kader harus termanfaatkan. Dengan begitu semakin meningkat kapasitas, bobot, dan kompetensinya.

Selanjutnya al-imtidad al-iqtishodiy (perkembangan ekonomi). Sampai sekarang pembiayaan dakwah kita masih dalam level konvensional melalui tadhiyyah dari ikhwan dan akhwat, dari ta’awun ikhowi yang luar biasa. Tentu berkahnya tidak diragukan. Tapi kalau dikaitkan dengan tugas berat ke depan, pengembangan ekonomi dakwah harus semakin professional. Basis ta’awun dan tadhiyyah harus selalu terpelihara, karena itu adalah modal awal. Tapi kalau modal awal itu tidak berkembang menjadi professional, maka akan banyak pembiayaan-pembiayaan dakwah yang tidak tertangani secara konvensional.

Sudah barang tentu, Allahu Ghaniyyun Karim. Semua sumber kekuatan, termasuk sumber ekonomi adalah dari Allah SWT. Tapi Allah memerintahkan kita bekerja. Rasulullah SAW pernah melihat seseorang yang setiap hari nongkrong terus di masjid. Beliau bertanya, “Siapa yang memberi nafkah dia?”. Sahabat menjawab, “Saudaranya”. Kata Rasulullah: “Saudaranya itu lebih baik dari dia”.

Umar bin Khattab juga melihat fenomena serupa. Ada orang terus menerus berdo’a di masjid. Kata beliau, “Alaa ta’khudzu fa’san, litahtathibu?” Mengapa kamu tidak ambil kampak, agar kamu mencari kayu. “Fa innas samaa la tumthiru dzahaban wa la fidhdhoh”, sesungguhnya langit tidak akan pernah hujan emas atau perak. Allah akan menurunkan rizki—apalagi rizki untuk dakwah, yang penting kita tampil di hadapan Allah dengan kerja keras.

Sudah tentu ini untuk para ikhwan dan akhwat yang mempunyai bakat di bidangnya. Kalau tidak mempunyai bakat jangan di dorong-dorong. Karena ada dua kerugiannya: bisnis rusak, dakwah rusak.

Disinilah kemudian peran takaful-ta’awun. Kita bakatnya berbeda-beda. Ada yang tumbuh dengan bakat ekonomi, bakat politik, bakat budaya, bakat kerja di charity. Dari semua bakat yang tumbuh ini terjadi ta’awun dan takaful, saling menopang.

Rasa berbagi dari ikhwah yang sukses ekonominya kepada ikhwan yang menekuni bidang lain harus ditumbuh suburkan. Supaya tidak akan ada komentar dari masyarakat, “Kasihan itu ustadz, dibiarin sama ikhwannya” Walaupun ikhwan akhwat itu ikhlas, tekun menekuni bidangnya walaupun tidak berefek secara ekonomi. Tapi masyarakat yang akan berkomentar. Banyak komentar itu datang kepada saya. Biasanya selagi masih dapat saya tangani, saya akan tangani sendiri. Kalau tidak, biasanya saya transfer ke ikhwan lain. Tapi kita tentu tidak harus menunggu komentar dari masyarakat. Maka, ikhwah harus mempunyai semangat berbagi. Alhamdulillah, beberapa ikhwah yang ekonominya baik, mempunyai daftar kafalah untuk ikhwah lain. Kalau kebiasaan ini ditumbuh suburkan, Insya Allah semakin berkah dakwah kita.

Perkembangan ekonomi ini, baik kapasitas atau bobotnya harus meningkat. Dari dulu sering saya komentari, Alhamdulillah pertumbuhan ekonomi di liqo’at/halaqoh itu berkah. Tapi pasar itu lebih luas dari halaqoh. Ketika datang ke halaqoh ada yang bawa jilbab, yang ini bawa barang lainnya, insya Allah berkah. Tapi untuk ekonomi dakwah itu kurang. Salah satu yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah itu adalah pasar. Maka semuanya harus seimbang antara pertumbuhan tanzhimi, tarbawi, tsaqofi, fanni, idari, dan iqtishady.

Berikutnya adalah faktor ijtima’i. Komunikasi sosial kita harus diperluas. Dalam hal komunikasi sosial, tidak perlu memakai taqwim nukhbawi (ukuran kader). Kita perluas komunikasi sosial kita, lintas partai, jama’ah, agama, dan etnis. Kita lakukan komunikasi secara luas. Karena keragaman atau pluralitas itu adalah fitrah. Rasulullah SAW juga mengembangkan hubungan secara luas. Bahkan ada komunikasi sosial yang jarang terungkap dari sirah nabawiyah, yang disampaikan Abu Bakar Shiddiq. Ketika menjadi khalifah pertama, beliau sangat memperhatikan kebijakan dan kebiasaan Rasulullah SAW.

Salah satunya, ternyata Rasulullah SAW melakukan komunikasi yang sangat baik dan akrab dengan seorang Yahudi yang buta matanya. Setiap pagi Rasulullah SAW datang mengantar roti dan susu. Orang Yahudi ini sudah tua dan giginya ompong. Kalau diberi roti yang kering dan ada air, roti itu dicelupkan. Kalau tidak ada, dikunyahkan Rasulullah, setelah itu disuapkan kepada orang Yahudi itu. Peristiwa itu hanya diketahui Abu Bakar.

Begitu Rasulullah wafat, Abu Bakar menggantikannya. Karena Yahudi ini buta, ia tidak tahu pada Abu Bakar. Ketika Abu Bakar menyuapkan roti, Yahudi itu berkata, “Siapa kamu?” Abu Bakar menjawab, “Saya biasa datang setiap pagi”—maksudnya menemani Rasulullah. Orang Yahudi berkata, “Tapi rasanya tidak begini, dia lebih halus dan lebih hangat”. Abu Bakar pun menangis. Ini adalah komunikasi lintas agama, dan itu merupakan bentuk riil dari rahmatan lil alamin. Sampai orang Yahudi pun menikmati Islam dalam keyahudiannya. Orang Kristen menikmati Islam dalam kekristenannya.

Walaupun entitas non muslim minoritas di Indonesia, tetap harus terjangkau oleh komunikasi sosial. Di lingkungan umat Islam diperkokoh. Jangan terhambat oleh beda yayasan, beda organisasi, beda partai. Kita harus terbuka. Kalau mereka mulutnya usil kepada kita, kita maafkan. Karena kita kader dakwah. Kadang-kadang ada organisasi yang terkontaminasi oleh kepentingan partai tertentu, lalu usil kepada kita. Maka kita harus lebih dewasa meresponnya. Tidak perlu terprovokasi oleh sifat-sifat yang kita yakini bukan sifat asli dari organisasi itu. Sekedar terkontaminasi, terkotori oleh kepentingan partai tertentu. Kita jangan mudah terpancing untuk kemudian ketus atau menjadi cuek kepada organisasi itu. Mereka tetap ikhwan kita, saudara kita seiman.

Alaqoh ijtima’i diperluas. Agar kehadiran kita diterima secara baik oleh seluruh komponen masyarakat, lintas partai, agama, dan organisasi. Kalaupun masih ada resistensi, itu bagian kecil dan biasanya berwarna ideologis politik.

Dalam berkomunikasi, prinsipnya, “sayyidul qaumi khadimuhum”, selalu berkhidmat. Dalam Islam, khidmat itu sampai ke tingkat “tabassumuka fi wajhika li akhika laka shadaqah”. Murah senyum, ramah, santun, itu merupakan modal dasar bagi komunikasi sosial kita.

Ini bagian dari tanhidiyah kita menuju mihwar daulah. Agar tingkat resistensi kehadiran kita di tengah-tengah pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara semakin kecil. Karena masyarakat melihat realitas fenomena kesantunan, keramahan, dan keterbukaan kita dalam komunikasi, insya Allah resistensi itu semakin mengecil, ia akan selalu ada, tapi akan bisa kita kurangi.

Berikutnya. Imtidad siyasi. Ruang lingkup komunikasi politik harus diperluas. Kemampuan berkomunikasi politik sangat besar pengaruhnya. Komunikasi politik itu mencari kemungkinan-kemungkinan di tengah ketidakmungkinan. Mencari titik temu bersama. Kita kelola dengan baik, supaya tidak ada benturan yang tidak perlu. Kita memerlukan peluang dan ruang pertumbuhan. Untuk menjamin keamanan, ruang dan peluang pertumbuhan, kita harus mengurangi komplikasi-komplikasi politik dengan pihak manapun agar kita mencapai posisi yang aman, bahkan sampai ke posisi dominan. Peluang-peluang kita terbuka banyak. Itu harus kita manfaatkan untuk lebih mengokohkan dakwah dan memperbesar dakwah.

Terakhir, imtidad i’lami. Pertumbuhan di sektor media massa. Memang beberapa faktor yang mencuat dan dianggap kendala adalah pembiayaan. Tapi ‘ala kulli hal, masalah i’lam (media) ini perlu dikemas secara baik. i’lam yang paling mendasar dalam gerakan dakwah ini adalah performance dari setiap diri kita. Setiap kita harus memancarkan sum’ah thayyibah (aroma yang baik) bagi jama’ahnya. Itulah modal dasar i’lam.

Di tahun 50-an Sayyid Qutb pernah didatangi banyak aktivis Islam. Mereka mengeluh tentang i’lam. Ada yang berbicara kurang modal, ada yang berbicara masalah keamanan. Ada yang mengeluh majalah-majalahnya sering dibredel, diberangus, dicabut izinnya, atau kantornya digerebek. Sayyid Qutb berkata, “I’lam asasi adalah anfusuhum”. Media utama adalah diri kader itu sendiri.

Mengelola i’lam ini terkadang gamang. Apakah ini tidak termasuk riya, apa tidak merusak zuhud kita, merusak tawadhu kita?

Kalau kita mengumumkan hal-hal yang terkait dengan pribadi, milik kita atau orang lain secara pribadi, itu baru bermasalah. Tapi kalau terkait dengan kepentingan publik, yang kita kerjakan, itu justru diperlukan. Untuk merangsang orang lain mengikuti, membantu, dan mendukungnya. Sikap-sikap kita yang membela umat harus ditampilkan. Bahkan itu bisa wajib, karena mendukung eksisistensi dakwah kita, pertumbuhan dakwah kita.

Faktor-faktor tadi secara simultan bergerak, tumbuh, mutawazin, berkembang. Insya Allah dakwah ini bukan hanya berkembang, tapi pengaruhnya, suaranya mudah didengar. Komentarnya mudah diikuti. Kritiknya mudah diterima. Karena kapasitas dan bobot tanzhimi, tarbawi, tsaqofy, fanni, idari, iqtishady, ijtima’i, siyasi, dan i’lami terkelola, terkemas secara baik, simultan dan seimbang.

Insya Allah ini akan menjadi modal agar dakwah dan jama’ah kita berpengaruh. Jika berbicara didengar, Jika bertindak terasa.

Insya Allah jama’ah dakwah kita semakin berbobot. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufiq, ri’ayah, inayah. Memberikan tamkin kepada kita. Sehingga semakin mendekatkan diri kita kepada ridha Allah sampai pada li i’lai kalimatillahi hiyal ‘ulya.

Diposkan oleh Catatan Rahanto di 16:59 0 komentar
Label: Taujihat, Ust. Hilmi Aminudin
Kamis, 22 Juli 2010
Integrasi Politik dan Dakwah
Dulu, saat awal ketika kita belum membuat partai, sebenarnya cukup mengenakkan kalau kita menjadi gerakan dakwah yang terbatas. Berada dilingkungan yang baik secara terus menerus, cerdas, berpendidikan tinggi, punya komitmen agama yang bagus serta lingkungan yang memberikan kenyamanan yang luar biasa.

Tapi, waktu kita membuat partai, seakan-akan kita keluar dari comfort zone. Zona nyaman, yaitu lingkungan orang shalih sepertinya terpecah, karena mulai dimasuki oleh orang-orang yang setengah shalih dan tidak shalih. Ruang lingkup pergaulan kita menjadi sangat luas. Sekarang kita bertemu dengan keadaan yang mungkin tidak nyaman secara psikologis.

Politik ini memberikan kita jadwal hidup yang sangat ketat karena ada pemilu 5 tahunan. Kita selalu mengukur kinerja setiap waktu karena ada banyak momentum. Kalau bukan kita yang mengukur kinerja kita maka orang lain yang mengukur kinerja kita. Sejak kita memutuskan untuk membuat partai, berarti kita membuka diri kita untuk diukur juga oleh orang lain. Dan itu membuat jadwal aktivitas kita menjadi sangat padat.

Sehingga kita harus belajar untuk bekerja dengan rileks dalam keadaan stress berkepanjangan. Itu salah satu pelajaran penting yang kita peroleh secara tarbawiyah setelah kita membuat partai.

Sebenarnya ada pelajaran lain, bahwa kita harus bisa belajar berbeda pendapat secara rileks juga. Banyak pendapat, banyak ketegangan, tapi kita harus mampu menghadapinya secara rileks.

Ikhwah sekalian.

Saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk membangun frame kita, khususnya terkait kerja-kerja tarbiyah dalam kontek amal siyasi. Sejak harakah ini didirikan, konsep awal tentang kehidupan yang ingin kita bangun adalah sebuah kehidupan islami yang integral dan komprehensif, dengan tidak membuat pemisahan-2 antara seluruh aspeknya. Oleh karena itu, sejak awal konsep integrasi ini menyebabkan harakah ini selalu berhadapan dengan sekulerisme yang memisahkan antara politik, negara dan agama.

Kita tahu dengan baik jargon yang dibuat Imam Hasan Al-banna, bahwa islam adalah dinun wa daulah (agama dan negara) sekaligus. Jadi kita menganut konsep integrasi dari awal. Tetapi konsep integrasi ini bukan hanya ada pada integrasi antara negara dan agama saja, namun juga antara dakwah dan politik. Itu sebabnya 10 tahun setelah Imam Hasan Al-Banna mendirikan jamaah dakwahnya, beliau langsung mendeklarasikan untuk memasuki era jahriiyah (era keterbukaan) dan ikut terlibat dalam aktivitas politik.

Sekarang tidak ada jalan bagi kita untuk menyatukan agama dan negara kecuali apabila kita mengambil bagian dalam aktivitas politik itu. Dan, sekarang ini, dalam sistem demokrasi, jalur orang untuk sampai kepada seluruh otoritas penting dalam negara hampir menjadi jalur tunggal, yaitu lewat partai politik.

Oleh karena itu, sekarang orang baru menyadari betapa besarnya peranan partai politik dalam menentukan arah kehidupan kita. Orang tidak boleh jadi gubernur kecuali kalau di dapat mandat dari partai politik. Memang ada pemilihan langsung, tetapi yang mendaftarkan harus partai. Kemudian memang ada calon independen, tetapi aturannya belum selesai, dan tidak benar-benar independen.

Oleh karena itu, untuk memperbesar akses harakah ke dalam negara itu jalannya cuma satu, yaitu memperbesar partai politiknya atau kendaraannya, atau kanalnya, yaitu partai politik. Apabila kanalnya besar, flow, arus yang akan masuk ke negara juga semakin besar.

Mengapa dulu birokrasi dikuasai Golkar? Ya, karena flow yang dibuatnya memang kanalnya besar. Bila kita mau masuk kesana, mesti membuat kanal besar bagi dakwah. Mengapa selama ini harakah terpinggirkan di banyak negara? Karena tidak ada kanalnya. Oleh karena itu, saya mengatakan bahwa lompatan pertama kita pada tahun 1999 adalah lompatan dari luar ke dalam.

Dulu kita dianggap OTB (organisasi tanpa bentuk). Antum bayangkan, orang-orang shalih yang terpilih diantara umat ini, kita memilih orang-orang shalih setengah mati, kita merekrut mereka dengan kriteria anasir taghyir (memiliki unsur perubah), kita pilih orang-orang hebat semuanya ditengah masyarakat dan kita masih dianggap sebagai orang aneh. Begitu kita membuat partai, kita melompat dari luar sistem ke dalam sistem dan itu memberikan kita banyak keleluasaan baru.

Begitu suara kita menguat pada tahun 2004, saya menyebut lompatan kedua ini sebagai lompatan eksistensi. Kita dianggap sebagai satu kekuatan politik baru yang sangat disegani di negeri kita saat ini, karena kanal yang kita ciptakan ini makin besar. Sehingga arus orang yang masuk ke otoritas negara itu makin banyak.

Misalnya kita lihat pada tahun 1999, akhwat kita yang ada di parlemen kita cuma satu orang, tetapi sekarang ini ada 72 orang. Artinya, di jamaah dakwah kita ada 72 suami yang istrinya bekerja di parlemen dan setiap hari para suami itu ditinggal istrinya. Kalau dulu kita meninggalkan istri sekarang kita mulai ditinggalkan istri. Quota 30% masih akan terus berlaku. Tahun 2009 nanti jumlah akhwat yang masuk ke parlemen kita akan makin banyak. Lalu, kita punya 1 menteri, menteri ini membawa gerbong, bukan hanya gerbong birokrat tetapi juga gerbong pengusaha.

Coba antum lihat, betapa banyak yang berubah begitu kanal ini membesar. Karena antum punya otoritas mencalonkan orang sebagai gubernur, maka orang mau bayar antum semua, supaya dia jadi gubernur. Oleh karena itu, ada banyak bisnis di dalamnya, seperti aktifitas tarbiyah hari ini, sudah mulai dikelola dengan cara bisnis. Ini sudah benar jalannya. Itu merupakan efek kanal yang kita ciptakan makin besar dan mempunyai efek dalam menciptakan lapangan kerja baru.

Level integrasi ketiga yang perlu kita waspadai karena kita belum mengenal dengan baik tabiatnya adalah integrasi aktivitas tarbawi dan aktifitas siyasi. Ini mungkin pengaruh dari dikotomi yang sebelumnya terjadi. Padahal, dua tahun terakhir ini, ada lebih dari 200 pilkada yang berlangsung. Itu berarti hampir per tiga hari ada satu pilkada.

Kebanyakan orang mengeluh pada dua tahun ini, bahwa pertumbuhan kader kita menjadi lambat. Bahkan, di DPP, ketika sekretariat melaporkan pertumbuhan kader tahun lalu minus, Presiden PKS keberatan,”Kok bisa minus? Ini gak mungkin.” Padahal itu laporan dari Wilayah. Kemudian Bidang Kaderisasi membuat evaluasi lagi di beberapa Wilayah, lalu ada pertambahan sedikit.

Setelah kita lihat, ternyata salah satu sebabnya adalah kebingungan mengintegrasikan pekerjaan, karena terlalu banyak pekerjaan sekaligus.

Pekerjaan ini belum dikelola dengan suatu pendekatan integrasi. Sebagai contoh, kalau orang luar melihat PKS, orang akan melihat PKS ini partai baru, dana kecil, tapi aktivitas partainya besar. Loadnya luar biasa penuh, tidak ada kosongnya.

Semua teman-teman diluar PKS kalau bertemu saya, selalu bertanya satu hal,”Bagaimana keuangan PKS? Saya kemana mana ke daerah bertemu dengan PKS, dimana mana ada PKS. Jalan terus, begitu kerjanya tidak berhenti-berhenti. ” Ini adalah load pekerjaan yang luar biasa besarnya.

Integrasi ini terkait masalah efektifitas dan efisiensi dalam melakukan pekerjaan besar dengan usaha yang seminimal mungkin. Sebagai contoh, ada banyak aktifitas kita di internal ini sebenarnya menggunakan sangat banyak orang, sangat banyak waktu, banyak dana, juga menyentuh sangat banyak publik. Kemudian hal ini sama sekali tidak mendapatkan liputan apa-apa di media. Akan tetapi, bila dari awal kita punya pandangan yang terintegrasi maka itu akan sangat berbeda.

Contoh lain seperti aktifitas mukhayam (kemah). Antum lihat, berapa banyak tenaga yang kita keluarkan untuk aktifitas yang kita kerjakan?

Harinya panjang, jumlah pesertanya banyak, kalau dikelola dalam satu kemasan, efek pelatihan tarbawi yang diharapkan dari mukhayam itu tetap dapat diperoleh dengan tetap mendapatkan liputan media yang luas. Tetapi ini belum kita kelola.

Kemarin coba antum bayangkan waktu kita mengubahnya di Cibubur. Berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan sekaligus? Karena kita mulai mengintegrasikan. Jangan sampai nanti orang media hanya bekerja mengiklankan PKS kalau ada Muharram, kalau ada Milad atau kalau ada Ramadhan saja, baru itu yang dinamakan aktifitas media, sedangkan aktifitas tarbawi tidak ada liputannya. Padahal sebenarnya ini justru aktifitas yang punya nilai jual yang luar biasa bagi orang-orang luar.

Antum lihat, orang-orang yang berminat terhadap petualangan itu kan banyak. Sekarang acara petualangan di tv itu laris dan ratingnya tinggi.

Kenapa pada sisi ini sebagai partai orang muda, tidak kita jadikan kekuatan. Pesona PKS yang bisa punya daya gugah dan daya rekrut bagi orang luar, bahwa partai ini mencanangkan suatu pola hidup yang sehat dan ingin membangun generasi muda yang kuat. Hanya dengan mengubah sedikit cara melakukannya untuk membuat suatu happening art yang bagus, membuat suatu release yang bagus, sedikit packaging yang bagus, maka semuanya akan berbeda hasilnya.

Antum tidak akan kehilangan sedikitpun efek tarbawiyah yang ingin kita capai apabila kita mampu mengintegrasikannya . Menurut saya, level integrasi ketiga ini perlu dipelajari. Pilkada ini adalah salah satu medan uji cobanya. Waktu kita merancang strategi di DPW untuk pemenangan Pilkada ini, dari awal saya menekankan : “Masukkan satu poin di grand strategy di DPW untuk pemenangan pilkada ini, bahwa syarat untuk memenangkan DKI Jakarta adalah dengan meningkatkan kapasitas, kinerja dan citra PKS, sebagai partai utama.”

Makin besar partai ini, makin mudah kita menyosialisasi calonnya. Kita bisa menggaransi bahwa sebab kemenangannya 70% lebih adalah oleh jaringan ini. Oleh karena itu, jaringan ini perlu diperbesar strukturnya maupun jumlah kadernya. Implikasinya apa? Semua target kaderisasi masukkan di target pilkada.

Jadi untuk memenangkan pilkada ini, kita memerlukan 162 ribu kader baru untuk mencukupi angka total 200.000 kader di DKI dan dengan demikian jika target kita adalah 2 juta suara, maka satu kader harus merekrut sepuluh suara. Insya Allah hal ini efektif untuk mencapai target itu.

Implikasi selanjutnya pada budgeting.

Antum lihat flow kegiatan itu akan lebih lancar ketika dia diintegrasikan. Sehingga manajemennya menjadi lebih sederhana, jauh lebih efektif dan efisien. Selain itu, dengan integrasi ini ada efek lanjutan, yaitu memperbesar aset kita dan kemampuan kapitalisasi kita.

Antum lihat suara partai-partai islam di Indonesia sepanjang sejarahnya tidak pernah lebih dari 45%. Artinya apa? Artinya afiliasi ideologi orang-orang islam indonesia masih ke ideologi sekuler.

Ini artinya semua gerakan dakwah yang pernah ada di Indonesia, ternyata tidak berhasil, padahal ormas-ormas dakwah seperti Muhammadiyah, NU jauh lebih tua dari Republik Indonesia ini. Apa yang menjelaskan PAN yang lahir dari Muhammadiyah Cuma dapat segitu suara? Apa yang menjelaskan PKB yang lahir dari NU Cuma dapat segitu suara? Bahkan kalau digabung misalnya dengan PPP tetap saja sedikit jumlah suaranya.

Artinya gerakan dakwah ini dari awal menganut pemisahan antara dakwah dan politik. akibatnya dia tidak bisa mengkapitalisasi aset-asetnya. Bahkan sekarang kita lihat ada pendekatan yang intensif dari PDIP ke Muhammadiyah, dan dari Muhammadiyah ke PDIP.

Kendala harakah islamiyah dalam upaya menjadi partai besar, salah satunya adalah ketidakmampuan mengintegrasikan program-programnya.

Sehingga selalu ada dua arus dalam jamaah dakwah, yaitu arus orang-orang tarbawi dan arus orang-orang politik. itu tidak bagus, tidak sehat, dan tidak benar-benar manhaj. Orang-orang tarbawi mengatakan,” Sudahlah, aktifitas kita sekarang sudah terlalu banyak politik. orang-orang sudah tidak memperhatikan lagi tarbiyah.”

Jadi seharusnya kita tidak pernah menganut pemisahan seperti itu. Attarbiyun, ‘assiyasiyun. Itu semua satu pekerjaan. Semua namanya dakwah. Semua pekerjaan ini sama untuk membangun aset kekuatan umat. Dengan mentarbiyah, kita membangun aset orang, dengan politik kita membangun aset kekuasaan. Hal ini tidak ada yang perlu dipisah-pisahkan lagi. Tetapi di banyak negara, penyakit ini bisa membesar, seperti di negeri kita juga. Kalau tidak segera merubahnya maka orang-orang tarbiyah akan merasa lebih nyaman, merasa hidup lebih tenang, lebih khusyuk dan sedikit merasa lebih religius dan lebih ikhlas dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang terlalu aktif di politik. kini ada satu gejala yang buruk dan tidak sehat dalam tarbiyah. Penting bagi kita untuk mengamatinya. Ada orang-orang yang merasa gagal di alam kenyataan, kemudian lari ke alam spiritual yang sedikit rada maya.

Dalam soal dana, misalnya, banyak orang mengatakan, “Sudahlah kita ini orang di DPR gak usah dibebankan cari dana untuk dakwah. Kita akan melaksanakan tugas dan tinggal kontrol kita saja.” Bisa jadi bukan karena ingin lempeng saja, Cuma mereka tidak mampu cari dana, tetapi kemudian mengcover ketidakmampuan dengan berbagai alasan. Orang-orang ini seolah-olah ingin mengatakan, bahwa jumlah barang halal jauh lebih sedikit dari jumlah barang yang haram. Logikanya adalah “Kalau yang halal itu lebih sedikit dari yang haram, terus kenapa islam menyuruh kita kaya?”

Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan itu. Tapi karena beberapa alasan. Pertama : dia tidak memahami manhaj dengan baik. Kedua : ada sesuatu yang disembunyikan di hati, yaitu ketidakmampuannnya. Ini juga gejala tarbawi yang tidak sehat.

Dalam soal aktifitas tarbiyah, ada juga gejala tidak sehat dari orang-orang yang tidak punya basis tarbawi yang bagus ketika kemudian terjun ke politik. ini harus diakui. Atas nama kesibukan di DPR dan DPRD dan seterusnya, akhirnya dia banyak ghaib di liqo’ pertemuan rutin kader, tidak lagi mentarbiyah, akhirnya secara ruhiyah dia kering dan semuanya kering. Hal itu kadang sebenarnya bukan karena aktifitas politik. sebelum terlibat di dalam politik pun orang-orang seperti ini sudah kering.

Ini rada rada mirip dengan perkataan Ali bin Abi Thalib saat pasukan Muawiyah dalam perang Shiffin mengangkat mushaf mengajak perdamaian. Susah ditolak. Orang mau damai pakai Al-quran susah ditolak, meski ada niat lain dibaliknya. Ali memahami dengan baik niat itu. Maka ia mengatakan,” Ini adalah kata yang benar tapi tujuannya adalah kebatilan.” Jadi kita mengungkap sesuatu yang terlihat nyata, tapi sebenarnya tidak.

Kemarin Syaikh Qardhawi berdoa di Masjid Istiqlal. Ada satu isi doanya, saya baru dengar itu dan memberikan saya inspirasi. Beliau mengatakan,” Ya Allah hindarkan ibadah-ibadah kami dari riya, hindarkan hidup kami dari tanaqudh (paradoks).” Hidup yang paradoks itu karena hal-hal begini. Seperti kita menyembunyikan sesuatu dalam hati kita, dan kita cover dengan bungkus-bungkus yang katanya manhaji.

Pemahaman ini diperlukan oleh para manajer-manajer tarbiyah ini, agar dapat mengelola dengan baik aktifitas ini, supaya tidak ada lagi pemisahan.

Kalau antum lihat rutbah tarbawiyah (level keanggotaan) kita, level paling bawah adalah pemula (tamhidi), diatasnya ada muayyid. Piramidanya selalu mengecil, semakin keatas itu semakin mengecil. Jadi biasanya rasionya 1/5 atau kalau tidak 1/10. dua level paling bawah ini kita sebut sebagai kader pendukung. Sedang kader inti ada pada 4 level keatas.

Saya ingin antum memahami falsafah manhaji pada sistem keanggotaan dalam perspektif strategy pergerakan. Anggota Madya (muntasib) konsepnya adalah orang-orang yang sudah memahami dakwah ini dengan baik, memahami islam dengan baik, berperilaku islami dan sudah terlibat dalam sebagian besar aktifitas dakwah ini dengan baik. Intisab artinya tergabung, dia mengetahui sudah bergerak dan tergabung di dalam jamaah dakwah ini.

Kemudian satu tingkat di atasnya Anggota Dewasa (muntanzhim) , yang terjemahannya artinya terstruktur. Dia bkan sekadar berada atau tidaknya di mihwar dakwah, tapi dia sudah menjadi operator utama mihwar. Satu tingkat lagi adalah anggota ahli, lalu purna (takhassus).

Kira-kira kalau dalam hirarki militer itu ada yang takhassus ini namanya komandan, yang anggota ahli (amilin) ini namanya pasukan khusus.

Kemudian yang muntanzhim itu pasukan strategisnya, yang muayyid ke bawah yang prajuritnya. Maka lapisan terkecil dari ummat adalah takhassus.

Lapisan terluranya ada muhibbin, ada ummat dan terakhir lapisan terluarnya adalah al qaum. Semakin antum di tengah maka semakin antum ada di titik pusat yang menentukan arah pergerakan umat.

Antum yang sudah jadi amilin sudah berada di titik pusat. Jadi dengan konsep ini, antum bisa mengetahui bahwa sebagian besar beban ini dipikul oleh orang yang makin ke dalam. Karena beban yang akan kita pikul semakin berat, maka syarat janji setianya juga semakin berat. Bukan pada kompetensi, tapi pada derajat atau bobot kesetiaannya, karena amanah umat yang berat ini hanya orang-orang yang benar-benar setialah yang bisa memikul beban ini. Ini adalah konsep pertama.

Konsep yang kedua, Jamaah Dakwah ini dibangun dengan 4 basis, yaitu :

1. Qaidah harakiyah (basis pergerakan), maksudnya mereka inilah yang mengoperasikan gerakan dakwah ini.

2. Qaidah fikriyah (basis pemikiran ), terdiri dari para pemikir, para perancang, para ulama dan para intelektual.

3. Qaidah siyasiyah (basis politik), terdiri pada pimpinan-pimpinan (qiyadah) pengambil keputusan dan penentu kebijakan.

4. Qaidah sya’biyah (basis massa).

Jadi kader kita ini, semuanya ada di kategori Qaidah harakiyah, Qaidah Fikriyah dan Siyasiyah. Karena itu lapisan terbawah dari dakwah adalah umat. Dari umat ini kita merekrut orang terbaik untuk naik ke Qaidah Harakiyah, dari Qaidah Harakiyah ini kita rekrut lagi yang terbaik dan naik ke Qaidah fikriyah. Kemudian dari qaidah fikriyah kita rekrut lagi yang terbaik untuk naik ke Qaidah Siyasiyah. Hal yang membedakan mereka dalam level kepemimpinan biasanya adalah dalam soal wawasan.

Dari mana kita merekrut ini semuanya? Kalau kader harakiyah itu adalah kader dengan enam ruthbah tarbawiyah itu tadi, maka tentu saja Qaidah Fikriyah dan Qaidah Siyasiyah ini diambilnya dari enam level tadi. Tentu saja Qaidah Fikriyah and Qaidah Siyasiyah itu paling mungkin diambil dari orang yang ruthbahnya paling atas dan itu yang paling mungkin. Makanya ketua DPD sebaiknya kader inti, karena sudah dalam level Qaidah Siyasiyah.

Ikhwah sekalian.

Kalau piramida keanggotaan kita ini tidak terisi dengan bagus, maka nanti sumber daya rekrutmen kita untuk mengirim basis-basis kepemimpinan kita dalam umat ini tidak akan terpenuhi. Tujuan kita untuk menjadi Qiyadatul ummah (pemimpin umat) ini tidak akan tercapai. Karena stoknya tidak tersedia. Apabila stoknya tidak tersedia maka akan ada suatu ancaman. Yaitu, kalau kita mencapai keberhasilan poltik, misalnya,tetapi tidak ada stok maka kita terpaksa melakukan transaksi dengan orang lain. Karena ada stok kompetensi yang tidak kita miliki tapi dimiliki orang lain. Itu membahayakan kemampuan kontrol kita.

Jadi seandainya nanti kita dapat 20% dan karena itu kita mempunyai hak untuk mencalonkan Presiden dan Wakil Presiden, misalnya, dan setelah itu kita menang, bagaimana kita mengatur negara ini?

Kalau hierarki ini tidak terpenuhi, maka dampaknya akan terjadi ketika kita mencapai lompatan-lompatan politik. kalau tidak sejalan pertumbuhannya, maka akan menyebabkan bahaya yang besar. Itu baru tentang kontrol atas pemerintahan. Kalau kita bicara tentang kontrol atas umat, seandainya kita mempunyai otoritas, tapi umat kita pada dasarnya belum terdakwahi dengan baik, ini juga bahaya. Dalam strategi dakwah, kalau masuk ke alam demokrasi, begitu kita naik dan berkuasa, kita tidak mungkin langsung mengatakan,” Kita mau menerapkan sistem Islam. Tidak begitu prosedurnya. Tetapi kita harus mengikuti prosedur demokrasi. Harus ada tuntutan dari rakyat. Kalau rakyatnya tidak menuntut, bahkan menentang, maka kita tidak bisa mengetuk palu.

Itulah yang terjadi pada waktu Muhammad Natsir menjabat sebagai Perdana Menteri. Dia tidak bisa berbuat apa apa, karena umatnya belum siap.

Oleh karena itu, penentuan target jumlah kader itu sebenarnya berangkat dari rasio pengendalian kita atas umat. Itulah sebabnya, kenapa jumlah kader kita harus banyak, karena jumlah penduduk umat kita di indonesia juga besar.

Berapa besar dari umat ini yang dapat dikendalikan oleh 2 juta kader? Berapa rasio pengedalian kader per umat. Misalnya Cuma 20%. Satu kader 20, misalnya. Maka kalau kita punya 2 juta suara, ternyata yang bisa kita kendalikan Cuma 40 juta umat. Itu angka yang bagus tapi tidak cukup untuk mengcover seluruh masyarakat di negara yang sangat luas seperti Indonesia ini.

Yang namanya masyarakat islami dalam pengertian yang kuantitatif, adalah apabila jumlah orang shalihnya mencapai 50 plus 1% lebih banyak, jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak shalih.

Ukuran kesalehan itu setidak-tidaknya ada 3, yaitu :

1. Memiliki afiliasi ideologi, karena itu adalah hakekat dari aqidah

2. melaksanakan semua fardhu ‘ain, khususnya Rukun Islam.

3. Meninggalkan semua dosa-dosa besar, khususnya yang bersifat pidana.

Kalau dosa menengah dan kecil itu susah. Termasuk juga untuk kader inti. Karena itu ada mekanisme pengampunan rutin untuk dosa berjalan. Seperti melalui wudhu, berjalan ke mesjid, shalat berjamaah dan lain-lain. Supaya – istilah orang akuntansi – neracanya seimbang.

Jadi, sekali lagi, ini menyangkut masalah mengendalikan keshalihan umat. Itulah fungsinya jumlah kader. Oleh sebab itu mengapa kader mesti kita angkat kualitas hidupnya jauh lebih tinggi daripada umat, karena hanya dengan itu dia mampu mengendalikan umat. Karena dengan itu dia bisa jadi Qiyadah di tempatnya masing-masing.

Ada faktor ketiga dari rasio ini selain pengendalian negara dan pengendalian umat, yaitu apabila kita menghadapi keadaan paling buruk.

Ada satu fakta yaitu begitu kita berkuasa, ternyata kita tidak bisa bermimpi untuk langsung melakukan dan membangun ekonomi, mensejahterakan rakyat dan seterusnya. Begitu kita berkuasa, antum akan menemui apa yang ditemui oleh saudara kita Nurmahmudi Ismail di Depok. Digoyang terus oleh orang.

Dalam perjalanan Rasulullah, fase pertama dari Madinah adalah marhalah (fase) meneguhkan eksistensi negara. Itu sebabnya dalam rangka menegakkan eksistensi, negara itu digoyang dari semua arah sebanyak 48 kali pertempuran dalam 5 tahun pertama. Itu sebabnya saya menemukan fakta-fakta bahwa pembangunan ekonomi saat itu tidak ada. Saat itu, Madinah adalah satu-satunya negara yang tidak punya bendahara. Tidak ada kas Negara di zaman Rasulullah. Tidak ada menteri keuangan bahkan tidak ada budget. Bahkan ketika kaum muslimin yang lelah berperang dan tidak sempat mengurusi bisnisnya serta lahan pertaniannya, mereka baru mulai berpikir, “Kapan ya kita rehat dari pertempuran ini?”.

Saya menemukan hadist-hadist lain, waktu fatimah binti Muhammad melahirkan Hasan, cucu pertama Rasulullah, Ali bin Abi Thallib memberikannya nama Harb (perang). Itu kata yang disenangi dan macho. Tapi kata Rasulullah,” Jangan itu namanya, karena tidak bagus, ganti dengan Hasan.” Rasulullah memberi nama yang lembut. Artinya apa? Menurut Syaikh Qardhawi, kosa kata perang itu adalah kosa kata yang paling tidak disenangi dalam islam. Tidak ada orang yang senang dengan kata itu.

Kita sebenarnya tidak menginginkan peperangan. Tetapi kadang itu adalah keniscayaan dalam hidup yang dipaksakan kepada kita dan kita harus menghadapinya. Itu sudah pertarungan hidup yang diciptakan oleh Allah SWT antara al-haq dan al-bathil.

Itu berarti begitu kita mengurus Negara, antum jangan bayangkan bahwa kita sudah melakukan program pemberdayaan kaum miskin, mengurangi pengangguran, membuka lapangan kerja dan kita undang investor dari luar, tidak begitu caranya menjalankan Negara. Sama sekali tidak !

Bayangkanlah semua yang paling buruk dari yang pernah kita bayangkan. Berusahalah berpikir ada yang lebih buruk dari yang kita bayangkan. Oleh karena itu, pada saat kita menghadapi hal-hal yang seperti itu nanti, kita tidak hanya mengandalkan semua institusi Negara, walaupun kita mempunyai otoritas besar dalam Negara. Bagaimana kalau terjadi invasi? Saya bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi TNI,”Pak, kalau kita diinvasi oleh Amerika seperti Irak,berapa lama bisa bertahan?” Dia bilang,”Insya Allah tidak akan lebih dari dua hari seluruh kota di Indonesia akan dikuasai. Setelah itu kita akan masuk ke hutan dan baru memulai perang gerilya.”

Jadi jika terjadi hal-hal seperti itu, siapa yang antum andalkan? Kader. Tidak ada lagi yang lain. Itulah alasannya dalam setiap level keanggotaan (ruthbah tanzimiyah) bukan kompetensi yang diuji, tapi derajat kesetiaan, karena sebenarnya ujiannya ada disitu.

Maka kita memahami dengan baik, begitu aktivitas tarbawiyah di dalam melemah, itu artinya kekuatan strategis akan hancur dengan sendirinya. Artinya kita mengeropos walaupun secara politik mungkin saja kita membesar.

Kalau antum memahamai kata kunci pengendalian terhadap Negara, terhadap umat, dan terhadap keseluruhan teritori saat kita menghadapi bahaya,

antum akan mulai mengerti mengapa kaderisasi adalah kata kunci bagi pertumbuhan dan kemajuan umat, karena antum sebagai pemimpin (qiyadah) yang ada pada lapisan terdalamnya.

Antum adalah saripatinya bangsa atau kaum ini. Kalau terjadi pelemahan disini maka lapisan-lapisan luar tidak bisa kita kendalikan. Baik dalam kategori pengendalian terhadap Negara, pengendalian terhadap kualitas umat, maupun terhadap fungsi pertahanan strategis kalau-kalau kita menghadapi bahaya.

Ikhwah sekalian,

Selanjutnya, poin terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, masalah pandangan futuristic ke depan. Berdasarkan hasil analisa situasi politik sekarang, saya merumuskan bahwa di masa yang akan datang, partai-partai yang bisa bertahan adalah yang memiliki beberapa karakter, diantaranya :

PARTAI YANG MENGGABUNGKAN DEMOKRASI INTERNAL, SOLIDITAS DAN MILITANSI

Jika Cuma ada demokrasi internal tapi tidak ada militansi dan soliditas, ini bahaya. Karena demokrasi akan mengalami suatu proses materialisasi. Orang menjadi sangat materialistis. Saya mempunya satu asumsi bahwa semua partai besar di masa yang akan datang, akan mengalami penurunan perolehan suara karena berkurangnya soliditas internal mereka. Tetapi PKS juga punya ancaman tidak akan bertumbuh besar lagi kalau soliditasnya sudah mulai tidak terjaga.

Soliditas internal kita ditentukan terutama oleh kematangan tarbawi kita semuanya. Jika kadar kematangan tarbawi itu rendah, itu menyebabkan kita mudah mengalami gempuran dari luar dan tiba-tiba akan mengakibatkan tidak solid. Misalnya, kalau kita tidak matang secara tarbawi, maka prinsip-prinsip tabayyun itu bisa hilang dan itu bisa merusak serta mengurangi tsiqah sesama kita.

Untuk menjaga soliditas, kata kunci yang penting di jama’ah dakwah ini adalah jalur tarbawi. Jadi kalau level nuqaba saja sudah tidak ada kesolidan, maka ada ancaman jangka panjang bagi jama’ah dakwah ini. Itu sangat berbahaya. Karena itu harus ada early warning system di internal jama’ah dakwah ini tentang masalah kematangan tarbawi. Kaderisasi membutuhkan maufakkir tarbawi (pemikir tarbiyah). Kita harus mempunyai tiga level kualitas kader secara tarbawi. Ada yang levelnya adalah mufakkir (pemikir) tarbawi, ada yang levelnya ‘idari (manajer) tarbawi dan ada juga yang levelnya murabbi.

Antum semua yang ada disini seharusnya mempunyai ketiga kompetensi tersebut sekaligus, karena hanya dengan begitu antum bisa menjamin adanya peningkatan kedewasaan tarbawi antum. Salah satu alat ukur kedewasaan tarbiyah, kalau antum mau lihat, adalah mutu gossipnya dan jenis-jenis konflik yang sering terjadi antara ikhwah.

Antum lihat perhatian-perhatiannya. Concernya pada masalah kecil atau besar. Antum lihat lagi usar, apa perhatiannya? Yang mereka bicarakan diluar agenda resmi itu apa saja? Kalau yang mereka persoalkan itu adalah persoalan-persoalan kecil, antum bisa membayangkan, orang yang berada di lapisan terdalam di umat ini berarti pikiran-pikirannya kecil, concernnya yang kecil-kecil. Masalahnya bukan masalah-masalah yang strategis. Padahal, seharusnya level obrolan antum adalah level obrolan-obrolan yang strategis.

Usar-usar ‘amilin dan nuqaba, harus berpikir di level-level strategis tersebut. Karena mereka sekaligus mufakkir tarbawi,’idari dan murabbi.

Pada tiga kualitas ini lihat kedewasaannya, dengan melihat concernya. Saya melihat masih banyak sekali kader inti di level sangat inti ini, obrolan-obrolannya itu masalah kecil semuanya. Kalau antum semuanya para qiyadatul ummah itu membicarakan masalah-masalah kecil, terus yang akan membicarakan masalah-masalah besar siapa?

Level of problem itu menentukan kualitas hidup orang. Jenis masalah yang antum hadapi itu, tidak akan keluar dari lingkaran kepribadian antum. Kalau antum temperamental, antum pasti punya masalah dalam soal komunikasi dan hubungan dengan orang. Kalau antum lemah dan malas, antum punya masalah dengan produktivitas. Kalau terlalu agresiv, antum biasanya punya persoalan dengan kerjasama dan amal jama’i. jadi, level of problem menentukan kualitas orang.

Antum lihat lagi, konflik-konflik yang terjadi di internal kita, layakkah hal-hal itu menjadi penyebab konflik? Semua itu menentukan ukuran-ukuran kematangan tarbawi. Ada orang yang misalnya karena belum mendapatkan sosialisasi, terus mutung, “Ya sudah terserah saja, deh”.

Itu tidak bagus. Mutu konflik kita kadang tidak menunjukkan bahwa kita berkelas. Begitu juga dengan cara kita mengelola konflik, seringkali tidak juga menunjukkan cara yang berkelas, punya tradisi ilmiah, punya tradisi syura’ dan seterusnya. Inilah kronik-kronik permasalahan yang kita hadapi dalam proses pendewasaan.

Proses pembesaran PKS terutama disebabkan oleh menurunnya perolehan suara-suara partai-partai besar dan meningkatnya perolehan suara kita yang disebabkan karena meningkatnya kepercayaan kepada institusi. Harus kita lihat dari awal, bahwa kita mengedepankan institusi dan bukan pada tokoh. Jadi kalau kita sudah tidak punya tokoh, kemudian institusi kita rapuh, maka yang akan dipilih orang dari PKS ini apa? Tidak ada lagi.

Masalah-masalah yang akan dihadapi Indonesia di masa-masa yang akan datang sebagian besarnya masalah-masalah global. Rakyat Indonesia , akan menghadapi suatu fakta persoalan nasional yang tidak bisa diselesaikan dengan pertimbangan internasional, dalam konteks globalisasi. Begitu PKS berada di puncak kepemimpinan nasional, misalnya, persoalan-persoalan efek globalisasi ini akan jauh semakin besar. Maka, tidak ada partai yang bisa bertahan kecuali partai yang memiliki visi dan misi peradaban.

Maka, implikasinya, parpol merupakan sumber daya utama kepemimpinan nasional. Dan, bahwa pemimpin harakah yang akan kita migrasikan untuk menjadi pemimpin Negara harus yang mempunyai kapasitas qiyadah hadhariyah (pemimpin peradaban).

Pemimpin Negara yang kita harus kita persiapkan adalah pemimpin yang kosmopolit. Tsaqafahnya, pergaulannya, semuanya punya ciri kosmopolit.

Implikasi internalnya adalah proses tarbawiyah kita harus semakin terintegrasi.

Kader baru yang kita lahirkan di kemudian hari harus merupakan kader yang memiliki wawasan ini. Sehingga dari tahun ke tahun, orang-orang yang kita cemplungkan ke dalam kepemimpinan di lembaga-lembaga Negara ini menjadi icon-icon peradaban yang bagus. Mulai sekarang harus ada pematangan terus menerus dari segi wawasan.

Syaikh Qardhawi dalam banyak taujihnya ketika di Indonesia mengatakan, bahwa Indonesia itu mempunyai semua asset untuk menjadi sebuah peradaban besar di kemudian hari. Itu berarti yang paling bertanggung jawab untuk mengubah Indonesia menjadi icon peradaban dunia adalah PKS, karena kita adalah saripatinya bangsa ini. Ini adalah konsep perjuangan kita.

About irfanstmik

KEJUJURAN ADALAH MODAL UTAMA UNTUK MEMPEROLEH KEPERCAYAAN

Posted on February 14, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: