Suharso: Ide FLPP Tak Ditangkap oleh Menpera Baru Suharso Monoarfa (dok) Jakarta – Mantan Menteri Perumahan Rakyat (menpera) Suharso Monoarfa menilai kisruh KPR subsidi skema FLPP muncul karena belum banyak pihak yang mengerti soal ide dasar dari fasilitas subsidi perumahan tersebut. Menurutnya, yang terpenting FLPP bisa bergulir dengan masa kredit yang lebih lama dari 15 tahun dengan bunga KPR tetap dan lebih rendah dari bunga KPR umum. Suharso menepis anggapan kalau kisruh FLPP ini karena adanya keinginan dari Menpera yang baru Djan Faridz untuk menghentikan program yang ia gagas beberapa tahun lalu ini. Ia menilai masalah ini lebih karena pemahaman soal FLPP yang sudah sejak 2010. “Saya kira idenya (FLPP) tidak ditangkap,” katanya kepada detikFinance, Senin malam (6/2/2012) Ia menilai kisruh suku bunga kredit FLPP saat ini seharusnya tak terjadi, meskipun ia mendukung keinginan menpera yang baru untuk menurunkan suku bunga FLPP lebih rendah. Namun ia mengingatkan program FLPP jangan sampai dihentikan apalagi diganti dengan program lain. “Tidak boleh dihentikan FLPP harus diteruskan, tak boleh dihentikan, kalau pemerintah mau menurunkan sukubunga silahkan, tinggal (negosiasi) PKO (perjanjian kersama operasi) saja,” serunya. Keinginan menurunkan suku bunga FLPP juga dinilai Suharso boleh-boleh saja karena pastinya akan disambut positif oleh masyarakat. Namun jika masalah itu malah menimbulkan terhentinya program ini, justru yang dirugikan adalah masyarakat yang sudah mengantri untuk kredit rumah. “Kalau saya masih disitu (jadi menpera) saya akan bilang oke, bunga 8%, tapi saya akan bilang kepada BTN agar ditambah 5 tahun jadi 25 tahun masa kreditnya, dengan cicilan lebih rendah,” katanya. Menurut Suharso bunga FLPP saat ini sebesar 8% sudah cukup rendah, namun jika bisa ditekan ke angka 7,5% itu lebih baik. Saat ini yang terpenting, lanjut Suharso, perlu ada perbankan yang bisa bertanggung jawab melayani kredit rumah bagi golongan menengah ke bawah seperti BTN. “Saya pikir pemerintah harus hati-hati menurunkan suku bunga, karena memang rakyat berharap suku bunga turun, sangat berharap, dan bisa panjang lagi, sampai 25 tahun masa kreditnya, itu lebih baik lagi,” katanya. Ia khawatir jika BTN yang selama ini berpengalaman menggarap KPR kalangan menengah bawah harus mundur dari program FLPP maka belum tentu bisa ditutupi oleh perbankan lainnya. Suharso masih ragu bank lain di luar BTN, bisa bertanggung jawab menyalurkan KPR bagi segmen menengah ke bawah. “Selama ini volume terbesar KPR untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) adalah BTN, bisa sampai 100.000 rumah (per tahun), bank lain belum melihat ini sebagai peluang, kalau mereka masuk yang bilang bisa murah bunganya, tapi berapa volume dia yang bisa disalurkan,” tanya Suharso.


Suharso Monoarfa (dok)

Jakarta – Mantan Menteri Perumahan Rakyat (menpera) Suharso Monoarfa menilai kisruh KPR subsidi skema FLPP muncul karena belum banyak pihak yang mengerti soal ide dasar dari fasilitas subsidi perumahan tersebut.

Menurutnya, yang terpenting FLPP bisa bergulir dengan masa kredit yang lebih lama dari 15 tahun dengan bunga KPR tetap dan lebih rendah dari bunga KPR umum.

Suharso menepis anggapan kalau kisruh FLPP ini karena adanya keinginan dari Menpera yang baru Djan Faridz untuk menghentikan program yang ia gagas beberapa tahun lalu ini. Ia menilai masalah ini lebih karena pemahaman soal FLPP yang sudah sejak 2010.

“Saya kira idenya (FLPP) tidak ditangkap,” katanya kepada detikFinance, Senin malam (6/2/2012)

Ia menilai kisruh suku bunga kredit FLPP saat ini seharusnya tak terjadi, meskipun ia mendukung keinginan menpera yang baru untuk menurunkan suku bunga FLPP lebih rendah. Namun ia mengingatkan program FLPP jangan sampai dihentikan apalagi diganti dengan program lain.

“Tidak boleh dihentikan FLPP harus diteruskan, tak boleh dihentikan, kalau pemerintah mau menurunkan sukubunga silahkan, tinggal (negosiasi) PKO (perjanjian kersama operasi) saja,” serunya.

Keinginan menurunkan suku bunga FLPP juga dinilai Suharso boleh-boleh saja karena pastinya akan disambut positif oleh masyarakat. Namun jika masalah itu malah menimbulkan terhentinya program ini, justru yang dirugikan adalah masyarakat yang sudah mengantri untuk kredit rumah.

“Kalau saya masih disitu (jadi menpera) saya akan bilang oke, bunga 8%, tapi saya akan bilang kepada BTN agar ditambah 5 tahun jadi 25 tahun masa kreditnya, dengan cicilan lebih rendah,” katanya.

Menurut Suharso bunga FLPP saat ini sebesar 8% sudah cukup rendah, namun jika bisa ditekan ke angka 7,5% itu lebih baik. Saat ini yang terpenting, lanjut Suharso, perlu ada perbankan yang bisa bertanggung jawab melayani kredit rumah bagi golongan menengah ke bawah seperti BTN.

“Saya pikir pemerintah harus hati-hati menurunkan suku bunga, karena memang rakyat berharap suku bunga turun, sangat berharap, dan bisa panjang lagi, sampai 25 tahun masa kreditnya, itu lebih baik lagi,” katanya.

Ia khawatir jika BTN yang selama ini berpengalaman menggarap KPR kalangan menengah bawah harus mundur dari program FLPP maka belum tentu bisa ditutupi oleh perbankan lainnya. Suharso masih ragu bank lain di luar BTN, bisa bertanggung jawab menyalurkan KPR bagi segmen menengah ke bawah.

“Selama ini volume terbesar KPR untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) adalah BTN, bisa sampai 100.000 rumah (per tahun), bank lain belum melihat ini sebagai peluang, kalau mereka masuk yang bilang bisa murah bunganya, tapi berapa volume dia yang bisa disalurkan,” tanya Suharso.

About irfanstmik

KEJUJURAN ADALAH MODAL UTAMA UNTUK MEMPEROLEH KEPERCAYAAN

Posted on February 7, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: